dik,
sesekali tengoklah lagi kebun teh Pucung
pada hampar hijau pucuknya,
sudah aku tulis sebuah sajak untukmu
tentang bebatuan di jalan setapak
tentang rimbun dedaun teh
dan tentang semilir pada rautmu
semua menyimpan rapat kisah kita
melalui setiap seduh dan sruput pelancong di sana
dik,
mari susuri lagi jejak kita
di lereng Lawu pernah kita basah bersama
engkau tertawa sambil mengembangkan lenganmu
sementara aku musti berjibaku menenangkan jantungku
yang tiba tiba sesak oleh kerlingmu
di situ,
aku tinggalkan catatan sajak diam
tentang rindu yang terbakar malam
rupanya benar kata orang orang
menjelajahi ruang ruang hati di karanganyar
adalah mengguratkan garis garis cinta yang tak pernah samar
seperti sajak untukmu
yang kutulis di hampar kebun teh dan lereng Lawu
Jogja, 7 September 2017
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Jumat, 02 Maret 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...
-
Lalu waktu bergegas gegas seperti cemas yang sedang berkemas siapa yang telah menggenggam rindu pucuk pucuk rumput mendadak layu di batas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar