kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau menjadikannya kaktus berduri ilalang
akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang
anakanak bermain layanglayang
bergambar wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan
sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati
melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata
agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah
membantu jemariku mengguratnya
di ruang hati paling sunyi
Jogja, 15 Februari 2017
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...
-
Lalu waktu bergegas gegas seperti cemas yang sedang berkemas siapa yang telah menggenggam rindu pucuk pucuk rumput mendadak layu di batas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar