sehelai daun melayang jatuh
tak menguning, tak juga melayu
tangkainya masih basah
oleh darah kemarin sore
didekapnya aroma bumi dalam satu hirup
sudah purba hidup
sorot matahari mencanda rekah awan
mengusapkan jejakjejak gersang di alun lagu
syair tak lagi tuah
termakan gempita yang gagap
musim ini tak juga berganti
Kaki Merapi, 30 Oktober 2011
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Rabu, 02 November 2011
Minggu, 30 Oktober 2011
Mencintaimu
Ijinkan aku mencintaimu
dengan cinta seperti tumbuhnya kuku
tak kenal henti meski jutaan kali dipotong
seperti gelombang rambutmu
mengombak di hatiku
menciptakan riakriak rindu dan buihbuih angan
memberi geletar di sekujur rasa dan denyar di kepala
aku terenjana
Biarkan aku mencintaimu
dengan cinta aloevera
tak kenal musim
sepanjang apapun kemarau menghanguskan hati
sehebat apapun hujan meluapkan banjir airmata luka
ia tetap hidup dan tumbuh
karena akarnya adalah uraturat nadi
Maka kutelutkan sujud paling sujud pada kuasa alam
bahwa badai dan gelombang laut
adalah pendar bintang pada langit rumah cinta
karena adonan cinta hilang garam
jika laut selalu tenang mengalun
Kaki Merapi, 26 Oktober 2011
dengan cinta seperti tumbuhnya kuku
tak kenal henti meski jutaan kali dipotong
seperti gelombang rambutmu
mengombak di hatiku
menciptakan riakriak rindu dan buihbuih angan
memberi geletar di sekujur rasa dan denyar di kepala
aku terenjana
Biarkan aku mencintaimu
dengan cinta aloevera
tak kenal musim
sepanjang apapun kemarau menghanguskan hati
sehebat apapun hujan meluapkan banjir airmata luka
ia tetap hidup dan tumbuh
karena akarnya adalah uraturat nadi
Maka kutelutkan sujud paling sujud pada kuasa alam
bahwa badai dan gelombang laut
adalah pendar bintang pada langit rumah cinta
karena adonan cinta hilang garam
jika laut selalu tenang mengalun
Kaki Merapi, 26 Oktober 2011
Jalan Darah Hati
sebatang jalan membujur jauh
aku sampai di ujungnya, ternyata bercabang
banyak kulihat darah berceceran di manamana
di semua cabang
terhenyak aku oleh genang merah berkilat
"apa yang terserak ini?" tanya hatiku
sebatang pohon meliuk, daunnya berkata, "kau ingin tahu?"
"kisahkan padaku," kata hatiku
syahdan, banyak pengembara terhenti di ujung jalan ini
mereka berkumpul dan berembug bagaimana membuat jalan baru
datanglah seekor gagak tibatiba berkata, "buang hati kalian,
tetes darahnya akan menjadi jalan baru
semakin banyak hati, semakin banyak dan panjang jalan."
mereka beramairamai mencabut hati dari dada dan
melemparkan sesukanya
dan jadilah jalanjalan bercabang, kemudian
mereka pergi dan kembali membawa hatihati baru
hingga semakin panjang cabangcabang jalan
maka jalan ini dinamai Jalan Darah Hati
entah di mana mereka mendapat hati
"siapakah mereka?" tanya hatiku
"jika nanti kaulihat kereta kencana dengan roda berlumur darah
itulah mereka di dalamnya," kata dedaunan mendesah
sesaat kemudian lewat kereta kencana bertabur berlian
dengan roda berlumur darah
dari berbagai cabang jalan
wajahwajah pasi bermata elang bercakap dan tertawa
kulihat lebih dekat, ada katakata di dahi mereka:
"kami tak butuh hati, apalagi puisi"
Kaki Merapi, 29 Oktober 2011
aku sampai di ujungnya, ternyata bercabang
banyak kulihat darah berceceran di manamana
di semua cabang
terhenyak aku oleh genang merah berkilat
"apa yang terserak ini?" tanya hatiku
sebatang pohon meliuk, daunnya berkata, "kau ingin tahu?"
"kisahkan padaku," kata hatiku
syahdan, banyak pengembara terhenti di ujung jalan ini
mereka berkumpul dan berembug bagaimana membuat jalan baru
datanglah seekor gagak tibatiba berkata, "buang hati kalian,
tetes darahnya akan menjadi jalan baru
semakin banyak hati, semakin banyak dan panjang jalan."
mereka beramairamai mencabut hati dari dada dan
melemparkan sesukanya
dan jadilah jalanjalan bercabang, kemudian
mereka pergi dan kembali membawa hatihati baru
hingga semakin panjang cabangcabang jalan
maka jalan ini dinamai Jalan Darah Hati
entah di mana mereka mendapat hati
"siapakah mereka?" tanya hatiku
"jika nanti kaulihat kereta kencana dengan roda berlumur darah
itulah mereka di dalamnya," kata dedaunan mendesah
sesaat kemudian lewat kereta kencana bertabur berlian
dengan roda berlumur darah
dari berbagai cabang jalan
wajahwajah pasi bermata elang bercakap dan tertawa
kulihat lebih dekat, ada katakata di dahi mereka:
"kami tak butuh hati, apalagi puisi"
Kaki Merapi, 29 Oktober 2011
Senin, 24 Oktober 2011
Teratai Cinta
kutengok hatiku, melingkar-lingkar di pusaran air kehidupan
timbul tenggelam
melambaikan cinta di setangkai kayu tua
yang gemetar digerogoti sejarah
sedang kau sibuk menghitung anak tangga dan
tak pernah mencapai puncak
sudahlah lupakan semua
bukankah telah kita semai cinta di awal musim hujan
agar tumbuh menjadi teratai tempat para katak
bermain dan bernyanyi riang
sementara ikanikan berenang berkejaran dan sembunyi
di bawahnya
tetapi waktu memang tak pernah berpihak
ia merayap, berlari, terbang, melesat tak perduli
cinta tlah menjalarkan akarnya di sekujur urat nadi
membiarkan tumbuh meliar, mengganas
menggerogoti tulang sisakan ngilu
menghisap darah sisakan luruh
sejarah purba yang selalu baru
kita saling tatap di bentang jarak dan waktu
dan bunga teratai berbiak menyemak
aku tergolek di dasar genang
tak lagi mampu menghitung jumlah
Kaki Merapi, 25 Oktober 2011
timbul tenggelam
melambaikan cinta di setangkai kayu tua
yang gemetar digerogoti sejarah
sedang kau sibuk menghitung anak tangga dan
tak pernah mencapai puncak
sudahlah lupakan semua
bukankah telah kita semai cinta di awal musim hujan
agar tumbuh menjadi teratai tempat para katak
bermain dan bernyanyi riang
sementara ikanikan berenang berkejaran dan sembunyi
di bawahnya
tetapi waktu memang tak pernah berpihak
ia merayap, berlari, terbang, melesat tak perduli
cinta tlah menjalarkan akarnya di sekujur urat nadi
membiarkan tumbuh meliar, mengganas
menggerogoti tulang sisakan ngilu
menghisap darah sisakan luruh
sejarah purba yang selalu baru
kita saling tatap di bentang jarak dan waktu
dan bunga teratai berbiak menyemak
aku tergolek di dasar genang
tak lagi mampu menghitung jumlah
Kaki Merapi, 25 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
Renjana Sunyi
senja menyapa, hadirkan angin pada rambutmu
sentakkan buncah pada kolam hasrat yang tibatiba
bergolak oleh lompat anakanak bermain air
aroma tubuhmu bangunkan beribu letup
di simpulsimpul syaraf
seakan adonan bubur pada titik didihnya
tanpa suara
aku terenjana
sejenak aku mabuk pada kilat kerling
merencah kepala; membawaku pada kemarau
dengan sungaisungai menadahkan tangan
dan tanahtanah rekah tengadah
berkata kepada langit, "cucurkan hujan pembasuh luka"
hening
kerontang sudah ilalang di ladang
tempat kita dulu bersua pandang
jejakmu dan jejakku tak lagi nampak bersilangan
karna debu dan layu dedaunan
lewat masa berganti
belati ini tak pernah mau berhenti
menusukkan sunyi
Kaki Merapi, 20 Oktober 2011
sentakkan buncah pada kolam hasrat yang tibatiba
bergolak oleh lompat anakanak bermain air
aroma tubuhmu bangunkan beribu letup
di simpulsimpul syaraf
seakan adonan bubur pada titik didihnya
tanpa suara
aku terenjana
sejenak aku mabuk pada kilat kerling
merencah kepala; membawaku pada kemarau
dengan sungaisungai menadahkan tangan
dan tanahtanah rekah tengadah
berkata kepada langit, "cucurkan hujan pembasuh luka"
hening
kerontang sudah ilalang di ladang
tempat kita dulu bersua pandang
jejakmu dan jejakku tak lagi nampak bersilangan
karna debu dan layu dedaunan
lewat masa berganti
belati ini tak pernah mau berhenti
menusukkan sunyi
Kaki Merapi, 20 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Sajak Cinta
kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati;
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau ini justru menjadikannya kaktus berduri ilalang
yang akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang anakanak bermain layanglayang
bergambar raut wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
pada wajah yang memenuhi kepalaku
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati, melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah, membantu jemariku
mengguratnya di ruang hati paling sunyi
sajak ini mengalir sendiri
tak kuasa membunuh sepi
Kaki Merapi, 14 Oktober 2011
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati;
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau ini justru menjadikannya kaktus berduri ilalang
yang akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang anakanak bermain layanglayang
bergambar raut wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
pada wajah yang memenuhi kepalaku
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati, melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah, membantu jemariku
mengguratnya di ruang hati paling sunyi
sajak ini mengalir sendiri
tak kuasa membunuh sepi
Kaki Merapi, 14 Oktober 2011
Perubahan
tadi kita jumpa di simpang lama, lusuh
wajahmu kuyu dan tirus, tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk namun sorotmu tak
hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata, saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Kaki Merapi, 11 Oktober 2011
wajahmu kuyu dan tirus, tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk namun sorotmu tak
hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata, saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Kaki Merapi, 11 Oktober 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...




