Ketika engkau hilang
ada geriap senantiasa menyapa tiap bulu tubuhku
hadirkan ribuan kaki semut menari tanpa irama
gesek dedaunan tiupkan nada asing
seolah dengking srigala di kesendirian kelam
Ketika engkau hilang
rinai hujan angsurkan setangkup kembang
yang mekar di musim lalu
alun ombak tawarkan setumpuk garam
untuk hiasan pada polos luka
dan biola di kejauhan sayatkan lengking nada
menguliti rasa
Ketika engkau hilang
angsapun berdansa dengan angin
yang bukan pasangan
dan layanglayang melambaikan tangan
tanpa benang
Kaki Merapi, 31 Januari 2012
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Selasa, 31 Januari 2012
Jumat, 27 Januari 2012
Sungai Hidupku
pada tiap mawar kulihat kerlingmu
pada tabir rinai terbias rautmu
pada hembus desau terhias kecup hangatmu
maka kutanam rekah mawar di jantungku agar
degupnya mengerjap larit kerlingmu
kuguyurkan rinai hujan agar di tiap
poriku tergurat rautmu
dan kuselimutkan angin agar hangat tubuhku
oleh kecupmu
pada gemericik air kudengar desahmu
riaknya merupa geliat lembutmu
dan alirnya hadirkan selusur jemari lentikmu
maka membenam aku dalam arus
hanyut
menyusuri lapis demi lapis geriap
denyutmu
Aih, kau
alam dan sungai hidupku
Kaki Merapi, 27 Januari 2012
pada tabir rinai terbias rautmu
pada hembus desau terhias kecup hangatmu
maka kutanam rekah mawar di jantungku agar
degupnya mengerjap larit kerlingmu
kuguyurkan rinai hujan agar di tiap
poriku tergurat rautmu
dan kuselimutkan angin agar hangat tubuhku
oleh kecupmu
pada gemericik air kudengar desahmu
riaknya merupa geliat lembutmu
dan alirnya hadirkan selusur jemari lentikmu
maka membenam aku dalam arus
hanyut
menyusuri lapis demi lapis geriap
denyutmu
Aih, kau
alam dan sungai hidupku
Kaki Merapi, 27 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Titik Titik Air
titiktitik air hadir menyapamu lewat kerjap cahaya
singgah menghiasai kujur dan rautmu
kau yang rajin menyapa angin
menggelungkan diri menepis bahkan desaunya
seremang angkasamu
segigil ngilu tubuhmu
gemeretak dinding rasaku
seribu kehendak koyak
karena rayu ribu titiktitik air mencumbu
maka kau selimutkan sepi pada lenguhmu
bak tari limbung tanpa irama
dan garam tak lagi asin
titiktitik air sedekat desah di nafasmu
selekat darah di nadimu
sirnakan cahaya pada kerling matamu
meski seribu senyum kutanamkan di bibirmu
lunglai harimu
Kaki Merapi, 26 Januari 2012
*untuk istriku terkasih yang sedang dicumbu cacar air
di sekujur tubuh bahkan wajah
singgah menghiasai kujur dan rautmu
kau yang rajin menyapa angin
menggelungkan diri menepis bahkan desaunya
seremang angkasamu
segigil ngilu tubuhmu
gemeretak dinding rasaku
seribu kehendak koyak
karena rayu ribu titiktitik air mencumbu
maka kau selimutkan sepi pada lenguhmu
bak tari limbung tanpa irama
dan garam tak lagi asin
titiktitik air sedekat desah di nafasmu
selekat darah di nadimu
sirnakan cahaya pada kerling matamu
meski seribu senyum kutanamkan di bibirmu
lunglai harimu
Kaki Merapi, 26 Januari 2012
*untuk istriku terkasih yang sedang dicumbu cacar air
di sekujur tubuh bahkan wajah
Selasa, 24 Januari 2012
Bumi Pertiwi
tangan terkepal. teracung angkasa ditantang
"Darah Juang" menggaung, menggema
leleh darah demi pertiwi
bumi menangis, mengais
karna tlah pergi nurani
Yogya, 25 Januari 2012
"Darah Juang" menggaung, menggema
leleh darah demi pertiwi
bumi menangis, mengais
karna tlah pergi nurani
Yogya, 25 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Cintaku Tak Mengenal Waktu
Kemarin kita bertemu di selasar itu
kulum senyummu
kilat kerling matamu
madu meruah di dinding hatiku
menyusuri alur nadi
pekat membungkus angan
hasrat terpendam
Kemarin kita bercumbu di sudut heninh
geliat tubuhmu
desah nafasmu
sengau suaramu
adalah bara di simpulsimpul sarafku
gelegak pada tiap gelinjangku
mengabur titik pandangku
lusuh ruang hampa
Pagi ini kutatatp dirimu
kulum senyummu
larit kerling matamu
semburat keriput wajahmu
masih juga madu mengalir di kujur nadiku
ruang dan waktu tak mampu membunuh
cintaku
rinduku
Yogyakarta, 19 Januari 2012
kulum senyummu
kilat kerling matamu
madu meruah di dinding hatiku
menyusuri alur nadi
pekat membungkus angan
hasrat terpendam
Kemarin kita bercumbu di sudut heninh
geliat tubuhmu
desah nafasmu
sengau suaramu
adalah bara di simpulsimpul sarafku
gelegak pada tiap gelinjangku
mengabur titik pandangku
lusuh ruang hampa
Pagi ini kutatatp dirimu
kulum senyummu
larit kerling matamu
semburat keriput wajahmu
masih juga madu mengalir di kujur nadiku
ruang dan waktu tak mampu membunuh
cintaku
rinduku
Yogyakarta, 19 Januari 2012
Kamis, 12 Januari 2012
LANGIT
Katakatamu mengalir begitu saja tanpa reka
pun prasangka
tanpa hulu ataupun hilir
kadang lantang melengking
kadang lembut mendayu
titikkan warna warni pada dinding hati
sering kau meracau dalam keteraturan logika
mencengangkan
menghujamkan katakata alam menghadirkan kesadaran
betapa agung Sang Khalik tereja pada tumbuhmu
pun prasangka
tanpa hulu ataupun hilir
kadang lantang melengking
kadang lembut mendayu
titikkan warna warni pada dinding hati
sering kau meracau dalam keteraturan logika
mencengangkan
menghujamkan katakata alam menghadirkan kesadaran
betapa agung Sang Khalik tereja pada tumbuhmu
Senin, 09 Januari 2012
Sepasang Merpati
Sepasang merpati menjejakkan kaki di langit angan
perlahan menautkan sayap melukis angkasa
dengan masingmasing mimpi
langit mengarakkan awan memikul berat basah
entah pada hati mana banjir akan menyapa
Sepasang merpati meliukkan tubuh
hening
saga mengambang dalam rinai pelangi asa
titiktitik bening merebak
meramu luka, suka, duka, maupun asa
menyulam harap pada remang kain cinta
Sepasang merpati mencumbukan mimpi
di atas ranjangranjang yang tak pernah pasti
entah siapa yang terkapar
karena sepasang merpati menyorotkan mata binar
sekaligus nanar
Malang,8 Januari 2012
perlahan menautkan sayap melukis angkasa
dengan masingmasing mimpi
langit mengarakkan awan memikul berat basah
entah pada hati mana banjir akan menyapa
Sepasang merpati meliukkan tubuh
hening
saga mengambang dalam rinai pelangi asa
titiktitik bening merebak
meramu luka, suka, duka, maupun asa
menyulam harap pada remang kain cinta
Sepasang merpati mencumbukan mimpi
di atas ranjangranjang yang tak pernah pasti
entah siapa yang terkapar
karena sepasang merpati menyorotkan mata binar
sekaligus nanar
Malang,8 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...



