Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Rabu, 18 Mei 2011
Passion A Glance
Through ages of rocks I have learnt
the core of ecstasy some people might say
until my bones and flesh got burnt
in the howling dream, this shall only decay
In the shades meet two spheres of the earth
and collide in the twist two binary poles
thus trepidation from darkness get birth
with the remains of earthy ecstasy it burns the souls
It burns the souls and piles the ashes of dream
scattered by blind wind to nowhere land
to the timeless hollowness of sorrow
then for poppy and charms the hearts bleed and scream
for a winked passionate time comes to an end
and wake the mind with a bloody blow
Kaki Merapi, 19 Mei 2011
Sajak Kucing Mengeong
Kasihku, kasihku...
Seekor kucing mengeong dan menggeram
bulu-bulu di tubuhnya berdiri dan menegang
matanya nyalang menembus padang gelap rerumputan
pada sayup-sayup suara desah basah
Menggelinjang
Dia melompat, berlari, dan menerjang
Aih, bis kota dan kereta tlah sesak oleh kepala,
jalanan padat merayap oleh angkara,
bau mesiu maksiat membungkam alun udara,
istana dan gubuk reyot tak beda berlomba
menjejali perut dan sela kaki menganga
Kasihku, kasihku...
Seekor kucing mengeong dan menggeram
dia berlari tanpa henti
pada gigir malam tanpa tepi
hanya desis desah basah tanpa hati
Kaki Merapi, 19 Mei 2011
Minggu, 15 Mei 2011
Sajak Kerikil
Sebutir kerikil mengapung di empang
bergerak oleh angin, mencipta
lingkaran riak-riak berbuih tipis
Senja masih sisakan terik
dan selembar angin
Ada koyak pada sudut masa
mengejar bayangan lalu di sudut mata
membiru
Ada yang termangu di bibir empang
berharap riak tak lahirkan gelombang
dan hadirkan angin membawa terbang
masa tak tentu
Sebutir kerikil mengapung di empang
tenggelam di makan waktu
seperti aku padamu
Kaki Merapi, 16 Mei 2011
bergerak oleh angin, mencipta
lingkaran riak-riak berbuih tipis
Senja masih sisakan terik
dan selembar angin
Ada koyak pada sudut masa
mengejar bayangan lalu di sudut mata
membiru
Ada yang termangu di bibir empang
berharap riak tak lahirkan gelombang
dan hadirkan angin membawa terbang
masa tak tentu
Sebutir kerikil mengapung di empang
tenggelam di makan waktu
seperti aku padamu
Kaki Merapi, 16 Mei 2011
Selasa, 10 Mei 2011
Sajak Untuk Mama II
9 bulan kali 9 kali
kau pertaruhkan nyawamu
demi hadirnya kami
buah cinta
maka 9 bulan kali 9 kali
kau tanggungkan selaksa beban
demi cinta
Satu persatu kau rengkuh kami
dalam dekap lembut kasihmu
menjadi kanak-kanak
menjadi dewasa
dan menjadi manusia
Satu persatu kami terpuruk
dan porak
kau bangkitkan dan kau tata kembali
karna kami adalah buah kasih
yang kau pahat dengan cinta
Kaki Merapi, 11 Mei 2011
kau pertaruhkan nyawamu
demi hadirnya kami
buah cinta
maka 9 bulan kali 9 kali
kau tanggungkan selaksa beban
demi cinta
Satu persatu kau rengkuh kami
dalam dekap lembut kasihmu
menjadi kanak-kanak
menjadi dewasa
dan menjadi manusia
Satu persatu kami terpuruk
dan porak
kau bangkitkan dan kau tata kembali
karna kami adalah buah kasih
yang kau pahat dengan cinta
Kaki Merapi, 11 Mei 2011
Minggu, 08 Mei 2011
Sajak Sebuah Cermin
Sebuah cermin menggantung di dinding
tak ada keriput
tak pernah menua
dia simpan jutaan hidup ingatan
Jalanan berbatu
kadang mengoyak kaki
meski sudah bersepatu
Pepohonan meruntuhkan dedaunan
Sungai-sungai membawa sampah ke lautan
menjadi guratan pada sebilah cermin
Maka kuambil cerminku dan kutatap
dia tersenyum dan berkata, "Kau penuh keriput."
Kaki Merapi, 5 mei 2011
Sajak Untuk Mama
Mama,
aku tulis sajak ini karna rindu
yang tak mungkin lagi bersambut
karna tlah kau lunaskan peranmu di sini
dan aku ingin mengurai kembali
pelangi kasih yang kau gurat di hidupku
Kenangku menyusup masa-masa kecil
ulat-ulat bulu merajam sekujur tubuhku
kau lumurkan abu panas pada telanjangku
bara cinta aliri tulang-tulangku
kala air jerang mengguyur punggungku
kau teteskan liur pohon pisang pada lepuhku
sejuk kasih redakan jeritku
Aku rindu aromamu
basuh luka-lukaku
susupkan kepalaku pada dekapmu
redakan riuh di jiwaku
dan gelombang yang sesakkan dadaku
Mama,
kugurat sajak ini
di bayang pusaramu...
Kaki Merapi, 8 mei 2011
aku tulis sajak ini karna rindu
yang tak mungkin lagi bersambut
karna tlah kau lunaskan peranmu di sini
dan aku ingin mengurai kembali
pelangi kasih yang kau gurat di hidupku
Kenangku menyusup masa-masa kecil
ulat-ulat bulu merajam sekujur tubuhku
kau lumurkan abu panas pada telanjangku
bara cinta aliri tulang-tulangku
kala air jerang mengguyur punggungku
kau teteskan liur pohon pisang pada lepuhku
sejuk kasih redakan jeritku
Aku rindu aromamu
basuh luka-lukaku
susupkan kepalaku pada dekapmu
redakan riuh di jiwaku
dan gelombang yang sesakkan dadaku
Mama,
kugurat sajak ini
di bayang pusaramu...
Kaki Merapi, 8 mei 2011
Sajak Sebatang Lilin (Sajak Untuk Mama III)
Sebatang lilin tegak di atas meja sunyi
hilang asap
sumbunya menghitam jelaga, menunduk
menuding lantai hati
menyisakan ingatan pada leret-leret terang
pada semasa kelam
Tetesnya menjadi catatan beku pada hati
pada ceria tak terperi
pada masa penuh tawa canda
pada kala penuh warna
sebelum terbaring diam di tanah sunyi
Ah, aku masih ingin berbagi kelam
agar darahku tak berhenti di nadi
Sebatang lilin kembali ke wujud asli
diam abadi
Mama,
anakmu tak juga berhenti merindui
Kaki Merapi, 8 mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...




