Sebutir kerikil mengapung di empang
bergerak oleh angin, mencipta
lingkaran riak-riak berbuih tipis
Senja masih sisakan terik
dan selembar angin
Ada koyak pada sudut masa
mengejar bayangan lalu di sudut mata
membiru
Ada yang termangu di bibir empang
berharap riak tak lahirkan gelombang
dan hadirkan angin membawa terbang
masa tak tentu
Sebutir kerikil mengapung di empang
tenggelam di makan waktu
seperti aku padamu
Kaki Merapi, 16 Mei 2011
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Minggu, 15 Mei 2011
Selasa, 10 Mei 2011
Sajak Untuk Mama II
9 bulan kali 9 kali
kau pertaruhkan nyawamu
demi hadirnya kami
buah cinta
maka 9 bulan kali 9 kali
kau tanggungkan selaksa beban
demi cinta
Satu persatu kau rengkuh kami
dalam dekap lembut kasihmu
menjadi kanak-kanak
menjadi dewasa
dan menjadi manusia
Satu persatu kami terpuruk
dan porak
kau bangkitkan dan kau tata kembali
karna kami adalah buah kasih
yang kau pahat dengan cinta
Kaki Merapi, 11 Mei 2011
kau pertaruhkan nyawamu
demi hadirnya kami
buah cinta
maka 9 bulan kali 9 kali
kau tanggungkan selaksa beban
demi cinta
Satu persatu kau rengkuh kami
dalam dekap lembut kasihmu
menjadi kanak-kanak
menjadi dewasa
dan menjadi manusia
Satu persatu kami terpuruk
dan porak
kau bangkitkan dan kau tata kembali
karna kami adalah buah kasih
yang kau pahat dengan cinta
Kaki Merapi, 11 Mei 2011
Minggu, 08 Mei 2011
Sajak Sebuah Cermin
Sebuah cermin menggantung di dinding
tak ada keriput
tak pernah menua
dia simpan jutaan hidup ingatan
Jalanan berbatu
kadang mengoyak kaki
meski sudah bersepatu
Pepohonan meruntuhkan dedaunan
Sungai-sungai membawa sampah ke lautan
menjadi guratan pada sebilah cermin
Maka kuambil cerminku dan kutatap
dia tersenyum dan berkata, "Kau penuh keriput."
Kaki Merapi, 5 mei 2011
Sajak Untuk Mama
Mama,
aku tulis sajak ini karna rindu
yang tak mungkin lagi bersambut
karna tlah kau lunaskan peranmu di sini
dan aku ingin mengurai kembali
pelangi kasih yang kau gurat di hidupku
Kenangku menyusup masa-masa kecil
ulat-ulat bulu merajam sekujur tubuhku
kau lumurkan abu panas pada telanjangku
bara cinta aliri tulang-tulangku
kala air jerang mengguyur punggungku
kau teteskan liur pohon pisang pada lepuhku
sejuk kasih redakan jeritku
Aku rindu aromamu
basuh luka-lukaku
susupkan kepalaku pada dekapmu
redakan riuh di jiwaku
dan gelombang yang sesakkan dadaku
Mama,
kugurat sajak ini
di bayang pusaramu...
Kaki Merapi, 8 mei 2011
aku tulis sajak ini karna rindu
yang tak mungkin lagi bersambut
karna tlah kau lunaskan peranmu di sini
dan aku ingin mengurai kembali
pelangi kasih yang kau gurat di hidupku
Kenangku menyusup masa-masa kecil
ulat-ulat bulu merajam sekujur tubuhku
kau lumurkan abu panas pada telanjangku
bara cinta aliri tulang-tulangku
kala air jerang mengguyur punggungku
kau teteskan liur pohon pisang pada lepuhku
sejuk kasih redakan jeritku
Aku rindu aromamu
basuh luka-lukaku
susupkan kepalaku pada dekapmu
redakan riuh di jiwaku
dan gelombang yang sesakkan dadaku
Mama,
kugurat sajak ini
di bayang pusaramu...
Kaki Merapi, 8 mei 2011
Sajak Sebatang Lilin (Sajak Untuk Mama III)
Sebatang lilin tegak di atas meja sunyi
hilang asap
sumbunya menghitam jelaga, menunduk
menuding lantai hati
menyisakan ingatan pada leret-leret terang
pada semasa kelam
Tetesnya menjadi catatan beku pada hati
pada ceria tak terperi
pada masa penuh tawa canda
pada kala penuh warna
sebelum terbaring diam di tanah sunyi
Ah, aku masih ingin berbagi kelam
agar darahku tak berhenti di nadi
Sebatang lilin kembali ke wujud asli
diam abadi
Mama,
anakmu tak juga berhenti merindui
Kaki Merapi, 8 mei 2011
Rabu, 04 Mei 2011
Mama Waltz (Untuk Kami Buah Cinta)
Ayam jago baru saja berkokok
membelai matahari dini hari
Lagu Changing Partner mengalun
mengisi ruang hati
irama waltz antar langkahmu siapkan kehidupan
kau bumbui dengan senandung cinta
untuk kami buah cinta
Jemarimu trampil menari
pada bumbu dan alat-alat dapur
mengolah menu jadikan rasa
dan jiwa kami masak dewasa
Senyum dan senandung lirih bibirmu
temani setiap liuk tubuhmu
untuk kami buah cinta
Senja menyapamu
membalut hari-hari penuh erang
gula menggerogoti tubuhmu
Kau tetap terjaga pada kokok jago
membelai matahari dini hari
menyiapkan menu sempurna
untuk kami buah cinta
Ah, senja tak pernah lagi beranjak petang
belum tuntas waltz berirama mengalun
belum sempat cintamu berbalas
tlah kau sambut DIA, mengundangmu
ke perjamuanNYA
sisakan kelu abadi
Kaki Merapi, awal Mei 2011
Minggu, 01 Mei 2011
Selembar Tisu Menanti
Baru saja terlempar dari balik jendela
selembar tisu tergolek di tanah
basah jelaga mata
tlah terbuang secuil gelisah pada patahnya
Gemetar jemarinya menghitung kata
entah pada bab mana
terselip janji menghitam
dan melekat pada tisu lemah
di tanah basah
Semua pintu ingatan tlah dibuka
dia mendesah
karna hanya tinggal bayangan di kamar
memeluknya erat
Selembar tisu lemah di tanah basah
di bawah jendela
menyimpan ribuan kata
yang tak sempat terangkai lidah
untuk janji tak juga terlunasi
Selembar tisu jatuh lagi
membusuk bersama janji
menanti...
Kaki Merapi, awal Mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...




