Minggu, 08 Mei 2011

Sajak Untuk Mama

Mama,
aku tulis sajak ini karna rindu
yang tak mungkin lagi bersambut
karna tlah kau lunaskan peranmu di sini
dan aku ingin mengurai kembali
pelangi kasih yang kau gurat di hidupku

Kenangku menyusup masa-masa kecil
ulat-ulat bulu merajam sekujur tubuhku
kau lumurkan abu panas pada telanjangku
bara cinta aliri tulang-tulangku
kala air jerang mengguyur punggungku
kau teteskan liur pohon pisang pada lepuhku
sejuk kasih redakan jeritku

Aku rindu aromamu
basuh luka-lukaku
susupkan kepalaku pada dekapmu
redakan riuh di jiwaku
dan gelombang yang sesakkan dadaku

Mama,
kugurat sajak ini
di bayang pusaramu...




Kaki Merapi, 8 mei 2011

Sajak Sebatang Lilin (Sajak Untuk Mama III)


Sebatang lilin tegak di atas meja sunyi
hilang asap
sumbunya menghitam jelaga, menunduk
menuding lantai hati
menyisakan ingatan pada leret-leret terang
pada semasa kelam

Tetesnya menjadi catatan beku pada hati
pada ceria tak terperi
pada masa penuh tawa canda
pada kala penuh warna
sebelum terbaring diam di tanah sunyi
Ah, aku masih ingin berbagi kelam
agar darahku tak berhenti di nadi

Sebatang lilin kembali ke wujud asli
diam abadi

Mama,
anakmu tak juga berhenti merindui


Kaki Merapi, 8 mei 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Mama Waltz (Untuk Kami Buah Cinta)


Ayam jago baru saja berkokok
membelai matahari dini hari
Lagu Changing Partner mengalun
mengisi ruang hati
irama waltz antar langkahmu siapkan kehidupan
kau bumbui dengan senandung cinta
untuk kami buah cinta

Jemarimu trampil menari
pada bumbu dan alat-alat dapur
mengolah menu jadikan rasa
dan jiwa kami masak dewasa
Senyum dan senandung lirih bibirmu
temani setiap liuk tubuhmu
untuk kami buah cinta

Senja menyapamu
membalut hari-hari penuh erang
gula menggerogoti tubuhmu
Kau tetap terjaga pada kokok jago
membelai matahari dini hari
menyiapkan menu sempurna
untuk kami buah cinta

Ah, senja tak pernah lagi beranjak petang
belum tuntas waltz berirama mengalun
belum sempat cintamu berbalas
tlah kau sambut DIA, mengundangmu
ke perjamuanNYA
sisakan kelu abadi



Kaki Merapi, awal Mei 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Selembar Tisu Menanti


Baru saja terlempar dari balik jendela
selembar tisu tergolek di tanah
basah jelaga mata
tlah terbuang secuil gelisah pada patahnya
Gemetar jemarinya menghitung kata
entah pada bab mana
terselip janji menghitam
dan melekat pada tisu lemah
di tanah basah

Semua pintu ingatan tlah dibuka
dia mendesah
karna hanya tinggal bayangan di kamar
memeluknya erat

Selembar tisu lemah di tanah basah
di bawah jendela
menyimpan ribuan kata
yang tak sempat terangkai lidah
untuk janji tak juga terlunasi

Selembar tisu jatuh lagi
membusuk bersama janji
menanti...


Kaki Merapi, awal Mei 2011

Selasa, 19 April 2011

Sajak Untuk Wakil Rakyat


Mereka yang tak punya perih
setiap saat dikepung rasa gurih
dan liur menetes tanpa letih
mengganyang semua tandas,
ludas, tanpa sisa,
bersih

Mereka yang tak punya perih
merem melek matanya karena
perut penuh gajih

Mereka yang tak punya perih
tak pernah mau tahu mereka
yang dibakar matahari pedih
ditelusup terik rintih
terseok, tertatih,
mengais, menabrak, meraung, merepih

Tanyakan pada laut tanpa tepi
tentang mereka yang tak punya perih
bagaimana menjadikannya buih-buih
karena darah-darah di jalanan telah mendidih



Kaki Merapi, medio april 2011

Pada Paskah

Darah itu meleleh, menelusuri
garis-garis matahari
maka meluaplah sungai-sungai
pada jiwa malam
jalanan koyak karena jerit batu-batu

Sekumpulan gundah menggelundung
di tiap-tiap dawai gitar alam
melagukan basah hujan semalam
tak ada suara
tak ada rupa
hanya darah meleleh
pada garis-garis matahari

Sihir tlah berkelana melewati
simpul-simpul pagi
setelah malam membawa letih
dan rerumputan rebah oleh basah
yang diteteskan burung-burung
di balik daun

Ucapkan lelah
maka darah akan mengubur sekujur
resah pada tanah basah


Kaki Merapi, April 2011

Senin, 18 April 2011

Jepang Bukan Negriku

Yang perkasa di tanah limbung
koyak moyak tanpa airmata
maka kau beritakan pada dunia
arti ketegaran yang tak kami punya
makna sahaja
yang tak lagi kami sua
arti harga diri
yang tlah lari dari jiwa kami
makna keteraturan
yang tak pernah lagi kami pertuan

Pada kisah yang sama
kami nelangsa
berteriak menghiba
ke delapan penjuru dunia
mereka datang berbondong
kami banjir airmata menonton
sambil mencari celah menggemukkan kantong

Yang perkasa di tanah limbung
menjadi cermin pecah yang
tak lagi bisa disambung

Yang perkasa di tanah limbung
di tanah perkasa kami limbung...


Kaki Merapi, medio april 2011

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...