senja menyapa, hadirkan angin pada rambutmu
sentakkan buncah pada kolam hasrat yang tibatiba
bergolak oleh lompat anakanak bermain air
aroma tubuhmu bangunkan beribu letup
di simpulsimpul syaraf
seakan adonan bubur pada titik didihnya
tanpa suara
aku terenjana
sejenak aku mabuk pada kilat kerling
merencah kepala; membawaku pada kemarau
dengan sungaisungai menadahkan tangan
dan tanahtanah rekah tengadah
berkata kepada langit, "cucurkan hujan pembasuh luka"
hening
kerontang sudah ilalang di ladang
tempat kita dulu bersua pandang
jejakmu dan jejakku tak lagi nampak bersilangan
karna debu dan layu dedaunan
lewat masa berganti
belati ini tak pernah mau berhenti
menusukkan sunyi
Kaki Merapi, 20 Oktober 2011
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Rabu, 19 Oktober 2011
Senin, 17 Oktober 2011
Sajak Cinta
kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati;
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau ini justru menjadikannya kaktus berduri ilalang
yang akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang anakanak bermain layanglayang
bergambar raut wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
pada wajah yang memenuhi kepalaku
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati, melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah, membantu jemariku
mengguratnya di ruang hati paling sunyi
sajak ini mengalir sendiri
tak kuasa membunuh sepi
Kaki Merapi, 14 Oktober 2011
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati;
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau ini justru menjadikannya kaktus berduri ilalang
yang akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang anakanak bermain layanglayang
bergambar raut wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
pada wajah yang memenuhi kepalaku
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati, melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah, membantu jemariku
mengguratnya di ruang hati paling sunyi
sajak ini mengalir sendiri
tak kuasa membunuh sepi
Kaki Merapi, 14 Oktober 2011
Perubahan
tadi kita jumpa di simpang lama, lusuh
wajahmu kuyu dan tirus, tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk namun sorotmu tak
hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata, saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Kaki Merapi, 11 Oktober 2011
wajahmu kuyu dan tirus, tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk namun sorotmu tak
hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata, saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Kaki Merapi, 11 Oktober 2011
Minggu, 09 Oktober 2011
Terkerat Hati
Langit berlari sambil tertawa
menjatuhkan badannya di kasur
dan menghujamkan kepala di guling
Dakkk...
dahinya menghantam pinggir siku dinding
meledak tangisnya
terkerat hati papanya
Kaki Merapi, 09 Oktober 2011
menjatuhkan badannya di kasur
dan menghujamkan kepala di guling
Dakkk...
dahinya menghantam pinggir siku dinding
meledak tangisnya
terkerat hati papanya
Kaki Merapi, 09 Oktober 2011
Sepotong Malam
Sepotong malam membawa jemariku berjingkat
membuka lembarlembar lama kita
di sudut ingatan
Kaki Merapi, 09 Oktober 2011
membuka lembarlembar lama kita
di sudut ingatan
Kaki Merapi, 09 Oktober 2011
Dimming Hope
Gone the days, come along the nights
the wind scatters away
tranquility torn apart
so tiny pieces becomes
silence swallows 'em and leaves hollow
see bodies buried on the ground, shallow
creating red ponds in the descent hearts
no more tears
emptied by miseries
agony is the air to breathe
life and death
lost and glory
dream and reality
are but twins with a mirror between
and thine
and mine
are but invisible dust
never does it stay in hand
Gone the days, come along the nights
no border traces
no country stays
search no more,
but a dimming hope in the middle of gloom
for love is tugged from the very parlor of our hearts
Kaki Merapi, 8 Oktober 2011
the wind scatters away
tranquility torn apart
so tiny pieces becomes
silence swallows 'em and leaves hollow
see bodies buried on the ground, shallow
creating red ponds in the descent hearts
no more tears
emptied by miseries
agony is the air to breathe
life and death
lost and glory
dream and reality
are but twins with a mirror between
and thine
and mine
are but invisible dust
never does it stay in hand
Gone the days, come along the nights
no border traces
no country stays
search no more,
but a dimming hope in the middle of gloom
for love is tugged from the very parlor of our hearts
Kaki Merapi, 8 Oktober 2011
Kamis, 06 Oktober 2011
Tennessee Waltz
menggaung Tennessee Waltz di dinding rasa
melaras getar lewat angin senyap
hadirkan denting hati tanpa nada
sepercik masa menoreh lirih kepak desah; menusuk
menggurah rongga sunyi; gelap
seperti belai asing angin pada rambutmu
sorotmu hadirkan bungkah resah
pucuk dedaunan pada hentak udara bergulir
cicit anak burung menyambut suap
kulaikan seribu kenang
alir pada tubuh tanpa irama
sekejap bening runtuh membasah ladang dada
sentakkan nada rasa dalam kecipaknya
gurat sebilah buluh
saat senyummu melayu di sana
dalam rengkuh dekap tanpa nama
Kaki Merapi, 5 Oktober 2011
melaras getar lewat angin senyap
hadirkan denting hati tanpa nada
sepercik masa menoreh lirih kepak desah; menusuk
menggurah rongga sunyi; gelap
seperti belai asing angin pada rambutmu
sorotmu hadirkan bungkah resah
pucuk dedaunan pada hentak udara bergulir
cicit anak burung menyambut suap
kulaikan seribu kenang
alir pada tubuh tanpa irama
sekejap bening runtuh membasah ladang dada
sentakkan nada rasa dalam kecipaknya
gurat sebilah buluh
saat senyummu melayu di sana
dalam rengkuh dekap tanpa nama
Kaki Merapi, 5 Oktober 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...



