Minggu, 19 Juni 2011

Sajak Pendek Matahari

I
Sepetak hati mencumbu matahari rindu
Kutancapkan sunyi di sudut bibirmu
Desah pada gegar jiwa

II
Matahari baru tenggelam di balik saga
menyisakan sepotong kerling membias matamu
Aku gagap pada senja menghilang

III
Matahari menyapa rekah hari
Pada piasmu kulihat kerjap doa paling bening
Ya, kita pernah terejang pisau kebimbangan

IV
Matahari tergeletak menggumam erang
Meruntuhkan airmata dalam balut gemetar
Jiwaku demam karenanya

V
Matahari sudah lelah, menghilang
Kunang-kunang bergincu terbang menebar undangan
Tercecer wajah pias terbelenggu rindu

VI
Matahari, matahari, matahari
Bersabung hidup mengulang arti
Mati

VII
Matahari bicara pada laut
"Aku tuliskan nama di pasirmu"
Kau sisakan senyap dengan pasangmu

VIII
Aku bersumpah demi matahari
Kau sekam matahari
Koyak jantungku terjilat lidah api

IX
Matahari, matahari
Tawa dan rintih jadi saksi
Semestaku bisu dan tuli


Kaki Merapi, 20 Juni 2011

Jumat, 03 Juni 2011

Renta

Sepasang kakek nenek
bungkuk mencecah tanah
menabur benih mengolah hidup
tanpa kata, hanya angin mencanda
Tuhanku
jiwaku bergetar pada jejak mereka yang diam
sederhana


Kaki Merapi, 3 Juni 2011

Kamis, 02 Juni 2011

Sajak Buat Istriku (III)

Kemarin, yah baru kemarin
kita berdebat, bersilang pendapat dan hati berjabat
lalu malam mendekat, kuantar kau pulang
"Besok jemput aku, sayang," katamu manis.

Kemarin, yah baru kemarin juga
kusanding engkau di peraduan
hanya aku dan kau
meleburkan hakekat alam
waktu tak lagi berbeda buat kita

Kemarin, yah justru baru kemarin
kulihat selarik keriput di lipat matamu
kulihat rona abu membias di rambutmu

Kemarin dan hari ini
seribu waktu aku termangu


Kaki Merapi, 2 Juni 2011

Sajak Buat Istriku (II)

Lihatlah petak-petak sawah di sana
setiap petaknya menyimpan sebait peristiwa kita
ada kita berdansa dengan rima,
menari di atas pematangnya
ada kita bersabung dengan mendung,
dan hilang kidung.

Lihatlah riak-riak di sungai
setiap lekuknya memendam larik perjalanan
jejak langkah yang kadang menitikkan darah
dan kita berkejaran pada gemericiknya
mengundang rona berbias di wajahmu
setiap percik air adalah rasa yang
kita tancapkan pada arusnya
berlenggak-lenggok bergesek menelusup bebatuan
dan muntah pada lautan

Lihatlah buih-buih di lautan
gelembungnya adalah mimpi-mimpi kita
yang kadang pecah bahkan sebelum membuncah
pada kita alam tlah mengajarkan
merawat luka merenda harapan


Kaki Merapi, 1 Juni 2011

Minggu, 29 Mei 2011

Sajak Buat Istriku

Berpanah masa kau dan aku menatap senja
Saling berkisah pagi tak mau henti berganti
Berpeluh pelangi pada tapak kaki kita
Kita tak sendiri

Kita menunggang kala yang merambat sepesat angin
peristiwa demi peristiwa seperti gerak The 6 Million Dollar Man
menyiput sekaligus merusa
Kita masih menatap senja yang sama
dengan gincu saga

Tinggal setitik dwi windu kita berlalu
sungguh pekat aroma kelabu, kelu, dan sembilu
tapi bukan untuk kita menyerah kalah
meski jiwa raga penat lelah

Perang hidup belumlah usai
masih panjang langkah untuk mengurai masai
mari kita buat tekuk dan liuk
sebagai hidup yang sempurna bentuk


Kaki Merapi, 30 Mei 2011

Kamis, 26 Mei 2011

Sajak Para Pejabat

Aku mau mencumbumu
di bawah rinai rintih anak-anak buncit
di sela gelegar kepal tangan kiri meninju angkasa
pada deru asap padat tengah kota
dalam gelisah tangan-tangan mengais sisa-sisa
Dan kita bergelut di atas tebal rerumputan bata
yang merakit langit

Gemuruh tukang becak berteriak
karena perut mereka penuh sesak
oleh angin
menjadi musik indah kita bercinta
Raung banjir melanda kota-kota
membuatmu semakin menggelinjang
kita bergulat melihat kumuh rumah-rumah berserak
Lelaki perempuan telanjang menggelimpang
sepanjang jalan
ajal menjelang

Aih, aku ejakulasi
tetesan berbola duri-duri
dan kau mengerang kegirangan
berenang hutang
Biar saja mereka berkubang kelaparan


Kaki Merapi, 27 Mei 2011

Selasa, 24 Mei 2011

Ah, kalau saja aku masih boleh berharap



Angan ini dalam membelenggu rasaku,
mengharapmu selalu dalam rengkuhku,
dan kita bersama melampaui waktu.
Kepadamu aku terkulai karna hati terbelai
Kekasih, kau jadikan semua nyata untukku
dan tak lagi merana anganku

Betapa ingin rasa hatiku
menautkan bibirmu di bibirku,
membawaku mabuk melayang,
mencecap anggur manis dewa kayangan.
Geliat penuh bibirmu
adalah erangan rindu terpasung angan.
Aku lunglai kepayang

Andai aku masih bisa mengharap
dalam lautan cinta raga kita menyelam,
karna satu keinginanku terdalam,
memadu kasih denganmu sepanjang malam.
Karena hanya olehmu
hasratku mengharu, membiru,
dan karenamu renjanaku tak lagi kelu

Aih, kekasih, harapku masih semata angan
Rasaku dan rasamu di sana terselimut awan;
biarkan aku merengkuhmu, mendekapmu,
melumerkan karang keraguan,
menuai kepercayaan,
hingga jiwa kita berjalan bergandengan

Kekasih, di sini aku masih berharap
hanya ada engkau dan aku
tanpa cemas dan khawatir mengganggu.
Bersama bahagia kita berdansa,
melantunkan sajak cinta berbagi rima;
entah di sini atau di mana
waktu akan segera menjemput kita

Ah, kalau saja aku masih boleh berharap
ingin kurenggut aturan bumi
mati dan demi bersamamu hidup kembali
karena jiwamu dan jiwaku
Tlah tertulis tebal di seluruh pucuk dedaunan:
Engkau untukku
Aku untukmu


Kaki Merapi, 25 Mei 2011
(adaptasi puisi If I Could Make A Wish oleh Pamela)

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...