Duhai sang raja,
datangmu mengobrak abrik ladang kata
kami dipancung kapak kapak media
dari segala penjuru
satu kisah nyata
menjadi banyak versi beda
entah kebenaran ada di pihak mana
boleh jadi semua serba pembenaran
Duhai sang raja,
andai engkau bisa berbahasa Indonesia
dan engkau baca semua media
apalagi yang maya
mungkin engkau akan kembali muda
oleh tawa tanpa jeda
membaca kekonyolan demi kekonyolan
di berbagai tautan
ataupun status picisan
yang bodoh dan yang pandai
tiba-tiba menjadi sama
sama kelasnya
sama mutunya
berlomba mengais sampah kata kata
Duhai sang raja,
jangan jangan justru baginda
pingsan tertawa
Selamat datang di negri para dewa
yang mabuk tanpa arak dan tanpa tuak
Jogja, 2 Maret 2017
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Jumat, 02 Maret 2018
Tumbal Perubahan
tadi kita jumpa di simpang lama
lusuh
wajahmu kuyu dan tirus
tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk, namun
sorotmu tak hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu
mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata
saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Jogja, 15 Februari 2017
lusuh
wajahmu kuyu dan tirus
tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk, namun
sorotmu tak hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti
ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu
mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata
saling canda
waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas
maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku
Jogja, 15 Februari 2017
Lepuh Rindu
Tiba-tiba kau hadir merobek tirai
deras darahku berdesir
waktu berhenti
kau sisakan lepuh
pada rindu
Jogja, 8 Mei 2012
deras darahku berdesir
waktu berhenti
kau sisakan lepuh
pada rindu
Jogja, 8 Mei 2012
Ada Gumpal Rindu di Tiap Simpul Sarafku
kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau menjadikannya kaktus berduri ilalang
akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang
anakanak bermain layanglayang
bergambar wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan
sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati
melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata
agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah
membantu jemariku mengguratnya
di ruang hati paling sunyi
Jogja, 15 Februari 2017
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau menjadikannya kaktus berduri ilalang
akarnya adalah seluruh urat nadi
di banyak ladang
anakanak bermain layanglayang
bergambar wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.
batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?
mestinya sepasang matamu
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana
seperti yang masih kurasakan
sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati
melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata
agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah
membantu jemariku mengguratnya
di ruang hati paling sunyi
Jogja, 15 Februari 2017
PERJALANAN
aku punguti malam dari hatimu
masih terserak banyak di situ
rupanya pagi ada yang membelenggu
dik, mari duduk di sini
jangan hiraukan lagi matahari
sebab panas kita lebih abadi
sudahlah, biarkan senja menyapa
kita bungkus saja kata kata
bukankah cinta itu bisu semata?
mari kita berkemas
sebentar lagi waktu ranggas
meski rindu tak mengenal batas
KM 27 November 2015
masih terserak banyak di situ
rupanya pagi ada yang membelenggu
dik, mari duduk di sini
jangan hiraukan lagi matahari
sebab panas kita lebih abadi
sudahlah, biarkan senja menyapa
kita bungkus saja kata kata
bukankah cinta itu bisu semata?
mari kita berkemas
sebentar lagi waktu ranggas
meski rindu tak mengenal batas
KM 27 November 2015
Kekasih, Mari Sini
kekasih,
mari duduk sini
meresapkan liuk pagi pada hembus angin
urai bunga tebu itu menari di kilau
matamu
pada degup degup dadamu
melautkan seluruh hasrat malam yang lola
mari sini ruahkan mimpi
meleburkan debardebar pelepah cinta
dan melahirkan anak-anak rindu
hingga kita berbingkai senyum
dan berbaring di rumah senja
mari sini menyambut matahari
lupakan sejenak geriap luka yang gemuruh
kita seduh sendu menjadi pupuk rindu
lebur kau dan aku
dalam senyap yang tak lagi bersembilu
Kaki Merapi, 07 April 2013
mari duduk sini
meresapkan liuk pagi pada hembus angin
urai bunga tebu itu menari di kilau
matamu
pada degup degup dadamu
melautkan seluruh hasrat malam yang lola
mari sini ruahkan mimpi
meleburkan debardebar pelepah cinta
dan melahirkan anak-anak rindu
hingga kita berbingkai senyum
dan berbaring di rumah senja
mari sini menyambut matahari
lupakan sejenak geriap luka yang gemuruh
kita seduh sendu menjadi pupuk rindu
lebur kau dan aku
dalam senyap yang tak lagi bersembilu
Kaki Merapi, 07 April 2013
Sajak Saga
gelincir matahari di ranjang hari
sisakan semburat rona di jejak kaki
ada menitis di bilahbilah langit
gaung bersambung di gigir tabir, pahit
aku bermain kata dengan cakrawala
saling bertukar sajak, berbaku gurindam
katakataku meliuk, kadang senyap makna
katakatanya lurus menukik tajam, menusuk, menghujam
katanya selalu begitu,
dari waktu ke waktu
dari jaman ke jaman
edan
mari, mari buat janji
antara kau dan aku sendiri
biar aku tak lagi bikin puisi
sementara engkau mengasah belati
kita buat semburat saga menjadi saksi
"mana mungkin ada janji
antara kepastian dan keinginan," katamu
sejurus aku termangu
berkedip mata saga padaku
menyilahkan senja mulai merengkuhku
waktu tak mungkin tertipu...
Kaki Merapi, Agustus 2012
sisakan semburat rona di jejak kaki
ada menitis di bilahbilah langit
gaung bersambung di gigir tabir, pahit
aku bermain kata dengan cakrawala
saling bertukar sajak, berbaku gurindam
katakataku meliuk, kadang senyap makna
katakatanya lurus menukik tajam, menusuk, menghujam
katanya selalu begitu,
dari waktu ke waktu
dari jaman ke jaman
edan
mari, mari buat janji
antara kau dan aku sendiri
biar aku tak lagi bikin puisi
sementara engkau mengasah belati
kita buat semburat saga menjadi saksi
"mana mungkin ada janji
antara kepastian dan keinginan," katamu
sejurus aku termangu
berkedip mata saga padaku
menyilahkan senja mulai merengkuhku
waktu tak mungkin tertipu...
Kaki Merapi, Agustus 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
Dewi Keadilan di Negriku
dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...
-
dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...