Jumat, 02 Maret 2018

Sang Raja

Duhai sang raja,
datangmu mengobrak abrik ladang kata
kami dipancung kapak kapak media
dari segala penjuru
satu kisah nyata
menjadi banyak versi beda
entah kebenaran ada di pihak mana
boleh jadi semua serba pembenaran

Duhai sang raja,
andai engkau bisa berbahasa Indonesia
dan engkau baca semua media
apalagi yang maya
mungkin engkau akan kembali muda
oleh tawa tanpa jeda
membaca kekonyolan demi kekonyolan
di berbagai tautan
ataupun status picisan
yang bodoh dan yang pandai
tiba-tiba menjadi sama
sama kelasnya
sama mutunya
berlomba mengais sampah kata kata

Duhai sang raja,
jangan jangan justru baginda
pingsan tertawa

Selamat datang di negri para dewa
yang mabuk tanpa arak dan tanpa tuak


Jogja, 2 Maret 2017

Tumbal Perubahan

tadi kita jumpa di simpang lama
lusuh
wajahmu kuyu dan tirus
tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk, namun
sorotmu tak hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti

ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu
mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata
saling canda

waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas

maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku


Jogja, 15 Februari 2017

Lepuh Rindu

Tiba-tiba kau hadir merobek tirai
deras darahku berdesir
waktu berhenti
kau sisakan lepuh
pada rindu


Jogja, 8 Mei 2012

Ada Gumpal Rindu di Tiap Simpul Sarafku

kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau menjadikannya kaktus berduri ilalang
akarnya adalah seluruh urat nadi

di banyak ladang
anakanak bermain layanglayang
bergambar wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.

batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?

mestinya sepasang matamu
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana

seperti yang masih kurasakan
sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati
melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata
agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah
membantu jemariku mengguratnya
di ruang hati paling sunyi


Jogja, 15 Februari 2017

PERJALANAN

aku punguti malam dari hatimu
masih terserak banyak di situ
rupanya pagi ada yang membelenggu

dik, mari duduk di sini
jangan hiraukan lagi matahari
sebab panas kita lebih abadi

sudahlah, biarkan senja menyapa
kita bungkus saja kata kata
bukankah cinta itu bisu semata?

mari kita berkemas
sebentar lagi waktu ranggas
meski rindu tak mengenal batas


KM 27 November 2015

Kekasih, Mari Sini

kekasih,
mari duduk sini
meresapkan liuk pagi pada hembus angin
urai bunga tebu itu menari di kilau
matamu
pada degup degup dadamu
melautkan seluruh hasrat malam yang lola

mari sini ruahkan mimpi
meleburkan debardebar pelepah cinta
dan melahirkan anak-anak rindu
hingga kita berbingkai senyum
dan berbaring di rumah senja

mari sini menyambut matahari
lupakan sejenak geriap luka yang gemuruh
kita seduh sendu menjadi pupuk rindu
lebur kau dan aku
dalam senyap yang tak lagi bersembilu

Kaki Merapi, 07 April 2013

Sajak Saga

gelincir matahari di ranjang hari
sisakan semburat rona di jejak kaki
ada menitis di bilahbilah langit
gaung bersambung di gigir tabir, pahit

aku bermain kata dengan cakrawala
saling bertukar sajak, berbaku gurindam
katakataku meliuk, kadang senyap makna
katakatanya lurus menukik tajam, menusuk, menghujam
katanya selalu begitu,
dari waktu ke waktu
dari jaman ke jaman
edan

mari, mari buat janji
antara kau dan aku sendiri
biar aku tak lagi bikin puisi
sementara engkau mengasah belati
kita buat semburat saga menjadi saksi

"mana mungkin ada janji
antara kepastian dan keinginan," katamu
sejurus aku termangu
berkedip mata saga padaku
menyilahkan senja mulai merengkuhku

waktu tak mungkin tertipu...

Kaki Merapi, Agustus 2012

Dewi Keadilan di Negriku

dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...