Sudah berkalang tanah mereka dalam cinta pada republik ini,
yang dulu berkeringat darah bermandi dentum mesiu
meneriakkan kata merdeka.
Tuhanku, lelapkah tidur mereka
padahal ranjang mulai terkoyak srigala tetangga,
ataukah tak pernah meram jiwa mereka
karna pertiwi yang dikhianati.
Kini kami para pewaris negri,
mengaum ganas pada anak-anak kami
kala mereka bertingkah,
tapi mendengking meratap-ratap
kala tetangga memelototkan mata,
seakan menatap monster raksasa sedang murka.
Kami yang lantang berkicau tentang kepemimpinan,
kedaulatan, demokrasi, dan perdamaian pada rakyat kami;
ternyata hanya mampu berkata, "Duli Tuanku,"
kepada tetangga cebol yang tak tahu malu.
Tuhanku,
sesunggunya kami adalah pewaris negri
tanpa hati; tanpa harga diri...
Yogyakarta, akhir agustus 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar