Rabu, 30 Maret 2016

Bunga Untuk GDI

kukirim bunga untuk seluruh anggota GDI
warna warni mengukir sendratari hati
liuk gendhing swargaloka
dewa dewi dan seluruh jelata

kukirim bunga kemari
seperti hujan mengirim basah pada kerontang musim
seperti kilau embun mengantar temaram pergi
bunga paling wangi di taman imaji
untuk GDI

kukirim bunga
menjadi penanda
luka bukan segalanya



Kaki Merapi 29 Maret 2016

Mawar Hitam

setangkai mawar untukmu
merah demikian mendalam
sisakan hitam
hingga menelan bayang kita
kau dan aku
dan segenap catatan kita
di sisi mana lagi musti aku gurat
setiap noktah menjadi serpih buluh
menyusupi dinding jantung
meneteskan merah di setiap perbincangan

di palung mawar ini
kutancapkan kata-katamu
tonggak sembilu tanpa waktu
kusimpan erat pendar tatapmu
yang membakar mimpiku
dan kusembunyikan catatan ingatan
sejarah anggur yang telah bisu

di palung mawar hitam ini
ucapmu tak lebih daripada ilusi
dan kepadamu
sunyi kutempa menjadi belati


Kaki Merapi 29 Maret 2016

GDI

di muara sungai ini kita bertemu
melalui liuk perjalanan dari berbagai hulu
di segenap penjuru
sudah pula garis alam setiap kepala membawa beda
di situ sejatinya letak peraduan segala rasa
di situ juga tungku menyala
mematangkan jiwa jiwa kembara
bukan untuk mengeja perih
serupa jerit peluit memanggil sunyi
bukan pula ajang untuk membakar hangus
liuk perjalanan yang telah mangkus

di panggung pedalangan nir rupa
kelir dan pelepah melembah untuk manembah
dan para wayang bersilih peran
bukan untuk sang dalang bisa sesorah
hingga pentas berderak menawarkan resah
yang tak hendak sudah

apa yang mau dicari
sudah penuh bukan dengan ilmu mumpuni?
yang tentu tidak untuk bermegah diri
mungkin sudah pada lupa
ketika telunjuk menudingkan dengki
ke dada sendiri empat jari hujamkan benci

tak perlu lagi bertanya siapa memulai
tapi buktikan, siapa punya nyali mengakhiri
riuh pertikaian yang menjadi jadi
ia yang bertindak mengakhiri
layak disebut yang sejati
dan ia yang berkelit di balik rimbun kata
tak lain adalah jiwa yang merana


Kaki Merapi 18 Maret 2016

Lukamu Bukan Lukaku

kalian kata kami terluka
sebab kami bicara berbeda
sebab mata kami lebih terbuka
pada perih setiap hari

sesungguhnya luka itu di jantung kalian
pada jurang dan malam kalian sembunyikan
agar tak tercuri angin dan dikabarkan dedaunan
dan menjadi mala tak terperikan

sudah terlanjur topeng tanpa lubang
kalian sematkan di wajah
demi harga diri dan keyakinan
maka kata kata dipermainkan
demi menambal luka luka baru tak terhentikan

mungkin juga kalian lebih suka berdiri
tengadah di pucuk keyakinan membuta
dan tak lagi peduli
yang terjadi setiap hari di bawah kaki

aih, pada kata kata
pada jurang dan kelam malam
kalian sembunyikan luka menganga


Kaki Merapi 26 Maret 2016

Kamis, 10 Maret 2016

KUCING GARONG

kucing garong diam di sudut selokan
bau busuk bangkai bangkai berserakan
ada bangkai tikus dengan dasi lekat di tulang
ada bangkai ayam dengan pita pita menawan
sebagian masih tersengal kelojotan

kucing garong jalan jalan di selokan
mampir dia di senayan
menduduki kursi kursi mewah para raja jadi-jadian
kemudian melompat, melenting di puncak terpenting
negri yang tak pernah lagi hening

kucing garong diam di sudut selokan
semua kursi dan posisi sudah dalam genggaman
semua gedung hingga senayan dan istana sudah di tangan
siapa yang bisa melawan kucing garong
sedang anjing anjing paling ganas pun
di depannya hanya bisa bengong, ompong
oleh kursi kursi empuk yang sesunggunya kosong
haiyaa, dia kucing garong, garongnya kucing
mana mungkin malu malu kucing

kucing garong diam di sudut selokan
hari ini, makan siapa lagi tuan?


kaki merapi 09 Feb 2016

Minggu, 11 Mei 2014

Kutulis Sajak Ini dari Balik Jeruji



kekasih, banyak orang bicara tentang dirimu
sudah berapa ribu liter tinta mengalir
dan terus mengalir
mengabadikan huruf-hurufmu
penuh benci, hujat, dan caci maki

kutulis sajak ini dari balik jeruji
menjadi penanda bahwa detak nadi tak
pernah berhenti untukmu
di lorong-lorong gang
di pinggiran dan perempatan jalan
di toko-toko dan supermarket
di kantor pemerintah dan istana
apalagi di gedung DPR
bahkan di sekolah-sekolah
dari SD sampai perguruan tinggi
tak ada denyut yang tak merinduimu
menyapamu, bahkan menggelutimu

lihat siapa yang sedang bergolek di sana
dijentikkan jarinya, negri ini demam berkepanjangan
demi cintanya kepadamu ia meringkuk
di balik terali ungu

kutulis sajak ini dari balik jeruji
sambil menyeruput kopi pagi yang disajikan penjaga tadi
sepertinya ini kopi Sidikalang yang terkenal nikmat itu
lihat kekasih, untukmu aku tinggal di sini
dengan kopi tiap hari
sambil menulis puisi
ahh, siapa bilang korupsi adalah aib
adalah hina
adalah kusta
sepertinya mereka perlu benggala
bukan sekedar secuil kaca

 Yogya, Mei 2014

Ulang Tahun

Ulang tahun tak perlu foya atau pun mewah
masih tak terbilang di sana, jauh maupun dekat
perut buncit penuh angin berserakan
yang bahkan untuk sekepal nasi pun musti berkelahi dengan maut

Maka sebuah roti dari istri, dibagi seisi rumah
sebuah roti dari mahasiswa, dibagi bersama rekan kerja
adalah kesederhanaan penuh makna, berbalut cinta
kado sepotong hem bergaris cerah
merupa senyum kekasih tanpa jeda
garis tanpa ujung yang menganyam dua hati, dua rasa
dalam satu cinta
dan doa-doa para sahabat yang mengetuk pintu langit
menjadi selimut sujud dan syukur

Tuhan,
apa lagi yang musti kukeluhkan?
sudah sempurna yang ada

Kaki Merapi, 10 Mei 2014

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...