Waktu tlah merenggutmu dariku,
waktu jua yg mengalirkanmu bersama darah
di nadiku
Seribu kelu bukan lagi sembilu
tak lagi hati mencucuk jarum
meski kadang masih tersisa gugu
tak ada lagi, tak ada lagi
kecuali keyakinan kelak kita bertemu
Kaki Merapi, 25 Juli 2011
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Senin, 25 Juli 2011
Selasa, 19 Juli 2011
Fading Joy
and thy fragrance of love to the mist disperses;
Slowly our memories creep out of the room
where once united our two universes.
Flirting my soul with thy fading smiles,
the moon launches my senses to the emptiness.
Shall I bridge the distance of a thousand miles
and bring thee back to swim in the sea of madness?
the moon launches my senses to the emptiness.
Shall I bridge the distance of a thousand miles
and bring thee back to swim in the sea of madness?
Tonight thou come to my silent rim;
oh sweet rose, I lost the wind thou breeze,
it slips away and come what may.
Hence, through the leaves I whisper my dream
and let the bees thy crimson joy squeeze
and bequeath this love to dim light to slay
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
Aku Titipkan Senyum
Aku titipkan senyum pada embun
pagi yang tiap kali mengetuk jendela hatimu
usapkan pada rona pipimu jika kau merindu
Kusampirkan harap pada rindang daunan di sisi kamar
jika kau bangun nanti,
ia akan merambati sekujur nadi
dan geliatmu leburkan renjana yang lama tersekam.
Aku pergi mengusung pagi,
tapi tak kutinggalkan senja
karena rautmu adalah penghuni abadi
alir nadiku
Mari bersendau meski lewat bayang
biar tak terasa bahwa jarak terentang
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
pagi yang tiap kali mengetuk jendela hatimu
usapkan pada rona pipimu jika kau merindu
Kusampirkan harap pada rindang daunan di sisi kamar
jika kau bangun nanti,
ia akan merambati sekujur nadi
dan geliatmu leburkan renjana yang lama tersekam.
Aku pergi mengusung pagi,
tapi tak kutinggalkan senja
karena rautmu adalah penghuni abadi
alir nadiku
Mari bersendau meski lewat bayang
biar tak terasa bahwa jarak terentang
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Kita Menari di Alir Sungai Susu
Kau dengar tadi mama,
mereka bergumam, sebagian bersenandung pujian untukmu.
Masih ada yang menitikkan bening memantulkan rautmu
yang meneduhku dari sengkarut rasa.
Sejenak kuedarkan mata pada kumpulan raut yang ada;
mestinya asing engkau karena bukan mereka
yang sering bercanda di beranda kita.
Aih, mestikah ada beda di sana?
Orangorang berkata bahwa 1000 adalah batas pemisah
dunia kita; tidak begitu bagiku. Waktu tak punya
kuasa atas darah yang mengaliri nadiku.
Engkau hanya berlalu sesaat menyiapkan tempat
bagi kita bertemu seperti dulu selalu
kau siapkan segala sesuatu untukku.
Bersuka citalah engkau dalam perjamuan kudusNYA
di sampingnya kelak aku berdansa di kemah Junjungan Agungku
kita menari di alir sungai susu.
Malang, 21 Juli 2011
mereka bergumam, sebagian bersenandung pujian untukmu.
Masih ada yang menitikkan bening memantulkan rautmu
yang meneduhku dari sengkarut rasa.
Sejenak kuedarkan mata pada kumpulan raut yang ada;
mestinya asing engkau karena bukan mereka
yang sering bercanda di beranda kita.
Aih, mestikah ada beda di sana?
Orangorang berkata bahwa 1000 adalah batas pemisah
dunia kita; tidak begitu bagiku. Waktu tak punya
kuasa atas darah yang mengaliri nadiku.
Engkau hanya berlalu sesaat menyiapkan tempat
bagi kita bertemu seperti dulu selalu
kau siapkan segala sesuatu untukku.
Bersuka citalah engkau dalam perjamuan kudusNYA
di sampingnya kelak aku berdansa di kemah Junjungan Agungku
kita menari di alir sungai susu.
Malang, 21 Juli 2011
Rabu, 06 Juli 2011
Lamunan
Tiba-tiba aku menjadi daun berenang dalam angin,
terhirup panas di alir nadi meretakkan mimpi.
Pernah kau untai kata
membuatku berkejaran dengan awan
pernah kau bisikkan desah meredam gelisah.
Aku menulis bayangku sendiri
Sepenggal ingatan menapak garis-garis mati
ada ruyak rasa tatkala titik hujan
mengukir pelangi menemani canda para awan
Butir-butir air adalah peristiwa membentang
jalan laluku;
di sana menggenang madu berhias kerikil batu
Ya, aku tersembilu
Lalu aku menjadi kata; bersemayam di kepala,
berhambur lewat lidah mengangakan luka.
Setiap huruf adalah ujung jarum
menukik syaraf rasa,
mengucurkan gigil keringat.
Lalu aku menjadi malam
tempat sunyi menghujam
Kaki Merapi, 6 Juli 2011
terhirup panas di alir nadi meretakkan mimpi.
Pernah kau untai kata
membuatku berkejaran dengan awan
pernah kau bisikkan desah meredam gelisah.
Aku menulis bayangku sendiri
Sepenggal ingatan menapak garis-garis mati
ada ruyak rasa tatkala titik hujan
mengukir pelangi menemani canda para awan
Butir-butir air adalah peristiwa membentang
jalan laluku;
di sana menggenang madu berhias kerikil batu
Ya, aku tersembilu
Lalu aku menjadi kata; bersemayam di kepala,
berhambur lewat lidah mengangakan luka.
Setiap huruf adalah ujung jarum
menukik syaraf rasa,
mengucurkan gigil keringat.
Lalu aku menjadi malam
tempat sunyi menghujam
Kaki Merapi, 6 Juli 2011
Selasa, 05 Juli 2011
Isra' Mi'raj
Telah ditetapkan engkau sebagai yang teristimewa
dari yang istimewa
Diberikan kepadamu cahaya sebagai pelayan
menuju Sang Tahta
setiap langit tunduk padamu
setiap langit memujamu
Kau pulang menggenggam dunia
mewariskan wasiat sakti 5 pilar utama
untuk menggapai surga
kau berikan penuh cinta
kau ajarkan dengan kasih lembut
maka bumi dan langit padamu bertelut
Wahai sang Kekasih Jiwa
sempurna cahaya yang engkau susupkan
pada alir nadiku
tuntas sudah pendar ajar menuju Tahta
yang engkau bisikkan pada setiap getar
bulu tubuhku
namun sesungguhnya aku tetap berada
pada puncak kelu
karna sujudku tak menembus angin
tak meliuk pada titik batin yang
haus sapamu
oleh debu mengental pada tiap butir keringat
yang menghujam kembali ke jantungku
Wahai Sang Kekasih Jiwa
Rindu padamu ini membawa getar gemetar pada
layang jiwaku yang kelana
isra'ku berlumut kelam pada batas tepi malam
mana mungkin aku mi'raj bahkan pada landas
tapak kakimu?
masihkan aku pantas mengagungkan sucimu
bahkan di sudut bilik batinku?
Kaki Merapi, 2 Juli 2011
dari yang istimewa
Diberikan kepadamu cahaya sebagai pelayan
menuju Sang Tahta
setiap langit tunduk padamu
setiap langit memujamu
Kau pulang menggenggam dunia
mewariskan wasiat sakti 5 pilar utama
untuk menggapai surga
kau berikan penuh cinta
kau ajarkan dengan kasih lembut
maka bumi dan langit padamu bertelut
Wahai sang Kekasih Jiwa
sempurna cahaya yang engkau susupkan
pada alir nadiku
tuntas sudah pendar ajar menuju Tahta
yang engkau bisikkan pada setiap getar
bulu tubuhku
namun sesungguhnya aku tetap berada
pada puncak kelu
karna sujudku tak menembus angin
tak meliuk pada titik batin yang
haus sapamu
oleh debu mengental pada tiap butir keringat
yang menghujam kembali ke jantungku
Wahai Sang Kekasih Jiwa
Rindu padamu ini membawa getar gemetar pada
layang jiwaku yang kelana
isra'ku berlumut kelam pada batas tepi malam
mana mungkin aku mi'raj bahkan pada landas
tapak kakimu?
masihkan aku pantas mengagungkan sucimu
bahkan di sudut bilik batinku?
Kaki Merapi, 2 Juli 2011
Senin, 04 Juli 2011
Tak Ada Lagi
Sehelai daun melayang
menghempas hasrat di batas ambang
pada sekujur bayangmu aku terkulai
tak ada lagi
tak ada lagi
Sehelai daun melayang
terbawa angin menghilang dari jarak pandang
kembali sunyi memagutkan perih pada jantung
tak ada lagi
tak ada lagi
Aku berlari mencecerkan pasir hati
Aih, bukan, tetapi hatiku yang tercecer pergi
tak ada lagi
tak ada lagi
Kaki Merapi, 15 Mei 2011
menghempas hasrat di batas ambang
pada sekujur bayangmu aku terkulai
tak ada lagi
tak ada lagi
Sehelai daun melayang
terbawa angin menghilang dari jarak pandang
kembali sunyi memagutkan perih pada jantung
tak ada lagi
tak ada lagi
Aku berlari mencecerkan pasir hati
Aih, bukan, tetapi hatiku yang tercecer pergi
tak ada lagi
tak ada lagi
Kaki Merapi, 15 Mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...





