Tak bisa lagi kuucap kata
karena segala kata tlah hilang makna
Tatapmu, kekasih
seolah ingin bicara
betapa cemas dan angan
tlah mengoyak hati dan rasa
Tetapi,
apalagi yang bisa kukata
karena segala kata tlah hilang makna
Saat kau ada, dan tersenyum mesra
hanyalah bahagia
memenuhi rongga dada
hingga hilang seluruh kata
Tatap mataku
hingga ke dasar hatiku
hingga segala keakuan lenyap
hingga saat kita kan bersatu, di ujung sunyi senyap.
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Senin, 16 Agustus 2010
WAHAI ANGIN
Dalam hening sunyi aku terpekur
Meregang jemariku mencoba meraih yang tak terukur
Di sudut rasa kumulai merajut jaring laba-laba
Mungkin bisa kusimpan anganku rapat di sana
Ingin bisa kutembus awan melayang
Kudekap jiwamu disana hangat berbagi angan
Wahai angin, bisikkan lenguhku padanya
Telah kembang kuncup rasa ini berbunga lara
Dan benih-benih rindu berbuah kelu
Mungkin sejuta titik kata tlah terhambur dari lidah kami
Mungkin seribu mimpi sempat menghias jerit hati
Dan mungkin berbintang bayang sempat meregang pikiran
Wahai angin, pastikan padaku tentang arti
Bila jalan berakhir terhempas di belantara sunyi.
Yogya, 25 Nov 05
Meregang jemariku mencoba meraih yang tak terukur
Di sudut rasa kumulai merajut jaring laba-laba
Mungkin bisa kusimpan anganku rapat di sana
Ingin bisa kutembus awan melayang
Kudekap jiwamu disana hangat berbagi angan
Wahai angin, bisikkan lenguhku padanya
Telah kembang kuncup rasa ini berbunga lara
Dan benih-benih rindu berbuah kelu
Mungkin sejuta titik kata tlah terhambur dari lidah kami
Mungkin seribu mimpi sempat menghias jerit hati
Dan mungkin berbintang bayang sempat meregang pikiran
Wahai angin, pastikan padaku tentang arti
Bila jalan berakhir terhempas di belantara sunyi.
Yogya, 25 Nov 05
Semangat
Terselip diantara belukar lamunan,
hasratku besar ditelan kekosongan,
tinggal mimpi menunggang pelangi angan,
tetap saja aku tak bergerak, stagnan.
Kugedor ribuan membran di kepala dan jiwa,
hanya ketukan lirih tanpa daya,
terkulai dipelukan angan,
terjepit dalam doa tanpa makna, merana.
Tuhanku,
lepas kurasa sendiku luruh,
gontai oleh janji hati yang letih,
tertatih oleh ingin yang tlah penat,
bangunkan aku,Tuhanku,
agar kembali kugenggam semangat,
dan kupenuhi segala angan dan hasrat.
Jogja, medio Juli 2010
hasratku besar ditelan kekosongan,
tinggal mimpi menunggang pelangi angan,
tetap saja aku tak bergerak, stagnan.
Kugedor ribuan membran di kepala dan jiwa,
hanya ketukan lirih tanpa daya,
terkulai dipelukan angan,
terjepit dalam doa tanpa makna, merana.
Tuhanku,
lepas kurasa sendiku luruh,
gontai oleh janji hati yang letih,
tertatih oleh ingin yang tlah penat,
bangunkan aku,Tuhanku,
agar kembali kugenggam semangat,
dan kupenuhi segala angan dan hasrat.
Jogja, medio Juli 2010
Rinduku tak bersambut
Rinduku tak bersambut
rasaku tak lagi bisa bergayut
bayangmu mengabur ditelan ketidakpastian
senyummu memudar meremas angan
Aku yang berharap,
tak lagi mampu mengucap
Aku yang berangan,
masih mencoba tuk bertahan,
hanya tuk bisa merengkuhmu,
mendekapmu walau selintas bayang.
Jogja, awal Agustus 2009
rasaku tak lagi bisa bergayut
bayangmu mengabur ditelan ketidakpastian
senyummu memudar meremas angan
Aku yang berharap,
tak lagi mampu mengucap
Aku yang berangan,
masih mencoba tuk bertahan,
hanya tuk bisa merengkuhmu,
mendekapmu walau selintas bayang.
Jogja, awal Agustus 2009
SAAT INI
Saat ini aku merindumu
menata kembali angan yang penuh debu
Saat ini aku ingin mendekapmu
berbagi rasa dari jiwa yang lara
Saat ini aku ingin mencumbumu
menyemai kembali cinta yang tlah lama kelu
Saat ini aku ingin bercinta denganmu
mengalirkan gelegak rindu yang tlah lama sendu
yang kini membasah madu
Saat ini aku ingin menyatu denganmu
dalam buai harapan baru
dengan bisik haru dan syahdu
dengan cinta yang tak mengenal jemu
Saat ini aku ingin dirimu....
dan hanya dirimu...
Jogja, akhir Juli 2009
menata kembali angan yang penuh debu
Saat ini aku ingin mendekapmu
berbagi rasa dari jiwa yang lara
Saat ini aku ingin mencumbumu
menyemai kembali cinta yang tlah lama kelu
Saat ini aku ingin bercinta denganmu
mengalirkan gelegak rindu yang tlah lama sendu
yang kini membasah madu
Saat ini aku ingin menyatu denganmu
dalam buai harapan baru
dengan bisik haru dan syahdu
dengan cinta yang tak mengenal jemu
Saat ini aku ingin dirimu....
dan hanya dirimu...
Jogja, akhir Juli 2009
SATU, SATU, SATU
Sudah sekian lama aku berjalan kesana kemari
Entah berapa jarak telah kulalui
Tak pernah kuhitung satu kaki demi satu kaki
Hingga keletihan mulai merayapi sekujur tubuh bahkan hati.
Lalu kutemui jalanan bebatuan, belantara kehidupan
Dan sebuah pondok mungil di ujung ufuk, menawarkan harapan
Semakin dekat langkah kakiku yang letih ini menuju
Meniti satu demi satu onak berduri maupun semak mengganggu
Kembara ini hampir berakhir bagiku, satu, satu, satu
Hatiku yang letih ini mulai teduh
Tubuhku basah berpeluh dan penuh; perih ini mulai sembuh
Langkahkupun mulai laju walau satu, satu, satu
Pondok mungil itu milikku dan hanya milikku
Akan kuhirup penuh udara keheningan bahagia
Akan kurengkuh dan kudekap tawa dan canda
Akan kudongakkan kepala dan kuteriakkan "Engkau milikku..."
Kekasihku,
Dipondok mungil itu
Kau dan aku selamanya satu, satu, satu, dan hanya satu.
Karena engkau adalah aku dan aku adalah engkau
Karena hatimu adalah hatiku dan hatiku adalah hatimu
Karena jiwamu adalah jiwaku dan jiwaku adalah jiwamu
Karena nafasmu adalah nafasku dan nafasku adalah nafasmu
Kekasihku,
Dipondok mungil itu
Kau dan aku selamanya satu, satu, satu, dan hanya satu.
Yogyakarta, Maret '98
Entah berapa jarak telah kulalui
Tak pernah kuhitung satu kaki demi satu kaki
Hingga keletihan mulai merayapi sekujur tubuh bahkan hati.
Lalu kutemui jalanan bebatuan, belantara kehidupan
Dan sebuah pondok mungil di ujung ufuk, menawarkan harapan
Semakin dekat langkah kakiku yang letih ini menuju
Meniti satu demi satu onak berduri maupun semak mengganggu
Kembara ini hampir berakhir bagiku, satu, satu, satu
Hatiku yang letih ini mulai teduh
Tubuhku basah berpeluh dan penuh; perih ini mulai sembuh
Langkahkupun mulai laju walau satu, satu, satu
Pondok mungil itu milikku dan hanya milikku
Akan kuhirup penuh udara keheningan bahagia
Akan kurengkuh dan kudekap tawa dan canda
Akan kudongakkan kepala dan kuteriakkan "Engkau milikku..."
Kekasihku,
Dipondok mungil itu
Kau dan aku selamanya satu, satu, satu, dan hanya satu.
Karena engkau adalah aku dan aku adalah engkau
Karena hatimu adalah hatiku dan hatiku adalah hatimu
Karena jiwamu adalah jiwaku dan jiwaku adalah jiwamu
Karena nafasmu adalah nafasku dan nafasku adalah nafasmu
Kekasihku,
Dipondok mungil itu
Kau dan aku selamanya satu, satu, satu, dan hanya satu.
Yogyakarta, Maret '98
Rinduku
Rinduku bersabung di langit
Mencerabut jiwa bersulang di awan
Memburai dendam asmara dilebur angin
Rinduku bergelut di angan
Bersabut asa berserpih masa,
Menjurai serabut mimpi di sudut hati
Karanganom, Mei 09
Mencerabut jiwa bersulang di awan
Memburai dendam asmara dilebur angin
Rinduku bergelut di angan
Bersabut asa berserpih masa,
Menjurai serabut mimpi di sudut hati
Karanganom, Mei 09
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...