Selasa, 25 Februari 2014

Di Selisih Hujan

di selisih hujan dan matahari
tak bisa lagi ingatanku melukis rautmu
meski sekedar sketsa di dingin angin
anak-anak rembulan menuangkan gelap
sementara denting gitar
bersembunyi di punggung daun
kupetik saja dawai di sudut kepala
dan mencoretkanmu apa adanya

Kaki Merapi, 5 Desember 2013

Kepadamu

pada sudut mana musti kutiriskan rasa ini
sementara puisi tak lagi bernyali
di gelombang rambutmu, geloraku sejenak bisu

lama alunku tak berbaku
di diam kata-kata
sedang resah telah pecah
serupa burai angin koyak

malam mulai membatu
dan desah desah memburu
kasihku, kasihku
pada rekah mana kau sisipkan pelangi
yang dulu sempat tak mengenal pagi

hiruk ini
masih melayari dadamu
kelok yang selalu misteri
di bidang mana musti kuhempaskan
riuh cumbu yang termangu

Kaki Merapi 25 November 2013

In Memoriam: Markus Rohadi

Kus, dulu, dulu sekali sempat sejenak kita bernyanyi bersama dalam paduan suara sastra. tiba-tiba waktu menjadi kilat, hanya benih kata di antara kita. tak lebih, tak kurang.

dunia lembar kaca ajaib kembali mempertemukan kita setelah belasan tahun berselang. benih kata dulu tiba-tiba menjadi hutan rimbun dengan matahari pagi dan sungai-sungainya, kicau burung dan nyanyi jengkerik malam. ya, ribuan kata kita sudah berbagi, bak pelangi. aih, pelangi. kau memanggilku begitu, Kus. Mr. Rainbow, begitu selalu tulismu untukku.

seperti dulu, waktu tiba-tiba menjadi kilat. hutan rimbun itu belum sempat kita jejaki bersama, tapi kau sudah memeluk pelangi. aih, Kus, ceritakan padaku kini, seperti apa sesungguhnya indahnya pelangi itu hingga kau sematkan padaku. mungkin juga kau sedang bercanda dengan kerling para bidadari, seperti kerap kau tuang dalam sajak-sajakmu.

Kus, mari, mari kita menari, agar hutan rimbun kita menjadi puisi, dan kelak kita baca bersama di ruang abadi.

selamat jalan kawan. tetaplah berpuisi di 'sana', sebab Tuhan sangat mencintai sastra, siapa tahu, DIA akan membaca puisimu.


Kaki Merapi, 13 November 2013

Sendiri

hujan deras,
mungkinkah rontok karat hati
atau sunyi tetap membelati
di rawa jiwa tak bernama


Kaki Merapi, 3 November 2013

Selasa, 24 September 2013

Adamu dan Adaku Tanpa Ruang dan Waktu

kupinjam dulu lembarlembar waktu
catatan empatpuluh dua titik perjalanan penuh warna
setengah lebih sudah kugurat di situ
warna apa yang kau pinta, ada
bahkan yang paling hitam pun bernoktah-noktah
atau pun yang paling merah, tak pernah padam

kugali lapislapis tanah ingatan, di titik terujung
masih kusimpan bara rasa yang tak mengenal surut
perciknya melentik di tiap-tiap rindumu
bergemuruh di sekujurku
empatpuluh dua masa tetaplah bungkus yang menganga
bahkan untuk setiap getar di dada

maka tak bisa lagi kumaknai rindu dan cinta
tak cukup lagi kata, tak cukup lagi warna
di pagi dan senja, di siang dan malam
di setiap perhentian dan perjalanan
di setiap hela nafas dan getar dedaunan
di situ adamu dan adaku
melewati batas ruang dan waktu

Kaki Merapi, 24 September 2013

Kamis, 29 Agustus 2013

Pagiku

pagiku penuh darah, meletup-letup di titik-titik syaraf
disapanya lapis-lapis kulit dalam kembaranya menuju jantung
dihembuskan sepoi membangunkan helai-helai
dan menuliskan pada lembar-lembar rasaku
"berbuncahlah denganku selalu
sebab siang kerap kali iri dan melelapkanku,
dan senja selalu tak sabar untuk segera melenakanmu"

dentam langkah dan deru jalanan melaju
pergulatan yang memburu
acap terburu-buru
debu dan resah
asap dan gairah
waktu adalah kekasih yang tergugu

pagiku berbisik padaku
bersimpanglah engkau
agar siang dan senja setia menunggu



Kaki Merapi, 30 Agustus 2013

Pilihan

ada yang menusukkan resah pada pilihan yang tak mudah
pertarungan bayangan melawan simbah keringat
belum kukenali apakah ini meja judi
tempat dadu nasib diputar, dipilin
dan nomor cemas diremas kepala
atau ini jalan bebas hambatan, lempang dan instan

ada yang meniupkan sesah pada hela nafas
panas dingin seperti musim-musim bercinta di dada
dan daun kering di pusar angin



Kaki merapi, 28 Agustus 2013

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...