di
selisih hujan dan matahari
tak bisa lagi ingatanku melukis rautmu
meski
sekedar sketsa di dingin angin
anak-anak rembulan menuangkan gelap
sementara denting gitar
bersembunyi di punggung daun
kupetik saja dawai
di sudut kepala
dan mencoretkanmu apa adanya
Kaki Merapi, 5 Desember 2013
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Selasa, 25 Februari 2014
Kepadamu
pada sudut mana musti kutiriskan rasa ini
sementara puisi tak lagi bernyali
di gelombang rambutmu, geloraku sejenak bisu
lama alunku tak berbaku
di diam kata-kata
sedang resah telah pecah
serupa burai angin koyak
malam mulai membatu
dan desah desah memburu
kasihku, kasihku
pada rekah mana kau sisipkan pelangi
yang dulu sempat tak mengenal pagi
hiruk ini
masih melayari dadamu
kelok yang selalu misteri
di bidang mana musti kuhempaskan
riuh cumbu yang termangu
Kaki Merapi 25 November 2013
sementara puisi tak lagi bernyali
di gelombang rambutmu, geloraku sejenak bisu
lama alunku tak berbaku
di diam kata-kata
sedang resah telah pecah
serupa burai angin koyak
malam mulai membatu
dan desah desah memburu
kasihku, kasihku
pada rekah mana kau sisipkan pelangi
yang dulu sempat tak mengenal pagi
hiruk ini
masih melayari dadamu
kelok yang selalu misteri
di bidang mana musti kuhempaskan
riuh cumbu yang termangu
Kaki Merapi 25 November 2013
In Memoriam: Markus Rohadi
Kus,
dulu, dulu sekali sempat sejenak kita bernyanyi bersama dalam paduan
suara sastra. tiba-tiba waktu menjadi kilat, hanya benih kata di antara
kita. tak lebih, tak kurang.
dunia lembar kaca ajaib kembali mempertemukan kita setelah belasan tahun berselang. benih kata dulu tiba-tiba menjadi hutan rimbun dengan matahari pagi dan sungai-sungainya, kicau burung dan nyanyi jengkerik malam. ya, ribuan kata kita sudah berbagi, bak pelangi. aih, pelangi. kau memanggilku begitu, Kus. Mr. Rainbow, begitu selalu tulismu untukku.
seperti dulu, waktu tiba-tiba menjadi kilat. hutan rimbun itu belum sempat kita jejaki bersama, tapi kau sudah memeluk pelangi. aih, Kus, ceritakan padaku kini, seperti apa sesungguhnya indahnya pelangi itu hingga kau sematkan padaku. mungkin juga kau sedang bercanda dengan kerling para bidadari, seperti kerap kau tuang dalam sajak-sajakmu.
Kus, mari, mari kita menari, agar hutan rimbun kita menjadi puisi, dan kelak kita baca bersama di ruang abadi.
selamat jalan kawan. tetaplah berpuisi di 'sana', sebab Tuhan sangat mencintai sastra, siapa tahu, DIA akan membaca puisimu.
Kaki Merapi, 13 November 2013
dunia lembar kaca ajaib kembali mempertemukan kita setelah belasan tahun berselang. benih kata dulu tiba-tiba menjadi hutan rimbun dengan matahari pagi dan sungai-sungainya, kicau burung dan nyanyi jengkerik malam. ya, ribuan kata kita sudah berbagi, bak pelangi. aih, pelangi. kau memanggilku begitu, Kus. Mr. Rainbow, begitu selalu tulismu untukku.
seperti dulu, waktu tiba-tiba menjadi kilat. hutan rimbun itu belum sempat kita jejaki bersama, tapi kau sudah memeluk pelangi. aih, Kus, ceritakan padaku kini, seperti apa sesungguhnya indahnya pelangi itu hingga kau sematkan padaku. mungkin juga kau sedang bercanda dengan kerling para bidadari, seperti kerap kau tuang dalam sajak-sajakmu.
Kus, mari, mari kita menari, agar hutan rimbun kita menjadi puisi, dan kelak kita baca bersama di ruang abadi.
selamat jalan kawan. tetaplah berpuisi di 'sana', sebab Tuhan sangat mencintai sastra, siapa tahu, DIA akan membaca puisimu.
Kaki Merapi, 13 November 2013
Sendiri
hujan deras,
mungkinkah rontok karat hati
atau sunyi tetap membelati
di rawa jiwa tak bernama
Kaki Merapi, 3 November 2013
mungkinkah rontok karat hati
atau sunyi tetap membelati
di rawa jiwa tak bernama
Kaki Merapi, 3 November 2013
Selasa, 24 September 2013
Adamu dan Adaku Tanpa Ruang dan Waktu
kupinjam dulu lembarlembar waktu
catatan empatpuluh dua titik perjalanan penuh warna
setengah lebih sudah kugurat di situ
warna apa yang kau pinta, ada
bahkan yang paling hitam pun bernoktah-noktah
atau pun yang paling merah, tak pernah padam
kugali lapislapis tanah ingatan, di titik terujung
masih kusimpan bara rasa yang tak mengenal surut
perciknya melentik di tiap-tiap rindumu
bergemuruh di sekujurku
empatpuluh dua masa tetaplah bungkus yang menganga
bahkan untuk setiap getar di dada
maka tak bisa lagi kumaknai rindu dan cinta
tak cukup lagi kata, tak cukup lagi warna
di pagi dan senja, di siang dan malam
di setiap perhentian dan perjalanan
di setiap hela nafas dan getar dedaunan
di situ adamu dan adaku
melewati batas ruang dan waktu
Kaki Merapi, 24 September 2013
catatan empatpuluh dua titik perjalanan penuh warna
setengah lebih sudah kugurat di situ
warna apa yang kau pinta, ada
bahkan yang paling hitam pun bernoktah-noktah
atau pun yang paling merah, tak pernah padam
kugali lapislapis tanah ingatan, di titik terujung
masih kusimpan bara rasa yang tak mengenal surut
perciknya melentik di tiap-tiap rindumu
bergemuruh di sekujurku
empatpuluh dua masa tetaplah bungkus yang menganga
bahkan untuk setiap getar di dada
maka tak bisa lagi kumaknai rindu dan cinta
tak cukup lagi kata, tak cukup lagi warna
di pagi dan senja, di siang dan malam
di setiap perhentian dan perjalanan
di setiap hela nafas dan getar dedaunan
di situ adamu dan adaku
melewati batas ruang dan waktu
Kaki Merapi, 24 September 2013
Kamis, 29 Agustus 2013
Pagiku
pagiku penuh darah, meletup-letup di titik-titik syaraf
disapanya lapis-lapis kulit dalam kembaranya menuju jantung
dihembuskan sepoi membangunkan helai-helai
dan menuliskan pada lembar-lembar rasaku
"berbuncahlah denganku selalu
sebab siang kerap kali iri dan melelapkanku,
dan senja selalu tak sabar untuk segera melenakanmu"
dentam langkah dan deru jalanan melaju
pergulatan yang memburu
acap terburu-buru
debu dan resah
asap dan gairah
waktu adalah kekasih yang tergugu
pagiku berbisik padaku
bersimpanglah engkau
agar siang dan senja setia menunggu
Kaki Merapi, 30 Agustus 2013
disapanya lapis-lapis kulit dalam kembaranya menuju jantung
dihembuskan sepoi membangunkan helai-helai
dan menuliskan pada lembar-lembar rasaku
"berbuncahlah denganku selalu
sebab siang kerap kali iri dan melelapkanku,
dan senja selalu tak sabar untuk segera melenakanmu"
dentam langkah dan deru jalanan melaju
pergulatan yang memburu
acap terburu-buru
debu dan resah
asap dan gairah
waktu adalah kekasih yang tergugu
pagiku berbisik padaku
bersimpanglah engkau
agar siang dan senja setia menunggu
Kaki Merapi, 30 Agustus 2013
Pilihan
ada yang menusukkan resah pada pilihan yang tak mudah
pertarungan bayangan melawan simbah keringat
belum kukenali apakah ini meja judi
tempat dadu nasib diputar, dipilin
dan nomor cemas diremas kepala
atau ini jalan bebas hambatan, lempang dan instan
ada yang meniupkan sesah pada hela nafas
panas dingin seperti musim-musim bercinta di dada
dan daun kering di pusar angin
Kaki merapi, 28 Agustus 2013
pertarungan bayangan melawan simbah keringat
belum kukenali apakah ini meja judi
tempat dadu nasib diputar, dipilin
dan nomor cemas diremas kepala
atau ini jalan bebas hambatan, lempang dan instan
ada yang meniupkan sesah pada hela nafas
panas dingin seperti musim-musim bercinta di dada
dan daun kering di pusar angin
Kaki merapi, 28 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...