Minggu, 11 Maret 2012

Pagi

kuterima pagi dengan selimut mawar ditebar
matahari bermanja di rambutmu
di cerlangnya aku mabuk mandi berguyur wewangi
cecapi tiap lapis aroma renjana paling hati
lepas gigil masa
lekukmu serupa liuk cemara pada desah musim angin
kelopakmu geriap rerumputan
seduh pada musim berganti
percik sudah senyum pelangi

Kaki Merapi, 9 Maret 2012

Mimpi dan Nyata

sekumpulan busa rasa
menggembung, kemudian pecah
memerca
jiwa terpasak di balik jeruji langit
tanya
sia-sia

Kamis, 01 Maret 2012

Bayang

sepekat rengkuh mencumbu angin
pelangi hanya mampu hadirkan mimpi
maka aku tak ingin terjaga


Jogja, Februari 2012

Rabu, 22 Februari 2012

Dash of Peace

Aku menemukan surga yang sama, di semua wajah anak yang lelap
Tawa mereka menyentuhku, dengan cara yang sama. Seperti awal hari. Dari masa yang berganti.
Terkadang kulihat kamu di mereka, dengan air matamu yang mengalun.
Tak ditahan-tahan di depanku.
Begitu kuat...., Begitu rapuh....,
Bagai secercah damai.

oleh: Julia Napitupulu

English version by RB. Edi Pramono

I find heaven in the slumbering children's faces
to the bed of my heart their laughter touches
resembling the beginning of a day, of all changing days.
Sometimes I see you in them, with your drifting tears
trickling, before me.
So strong..., so frail...,
like a dash of peace

Jumat, 10 Februari 2012

Habis...

Selimutkan saja kabut pada hati yang kedinginan
dan mari kita berbaring telanjang
tak lagi mengais
tak lagi menepis
selimutkan saja kabut
karna kita tak lagi mampu bertelut
habis...


Jogja, 11 Februari 2012

Kamis, 09 Februari 2012

Harap

Jalanan tlah kisahkan sembilu dari serpih hati
seperti yang tergurat pada pagi yang menyapa
maka kupindahkan pada tiap pucuk daunan yang kulalui
agar tak terinjak lelehkan darah di tiap pori
agar masih bisa kupetik
dan kuuntai kembali menjadi harap
dan kuletakkan di ranjangku, menjadi kawan
mimpi malamku


Jogja, 10 Februari 2012

Senin, 06 Februari 2012

Rinai Senja

Waktu itu senja mulai menyapa. Ruah sudah laut di rindu sosokmu, teteskan sungai koyak pada hendak ketika sore itu hujan mengguyur teras kisah kita. Rambutmu jadi basah oleh percik malam yang dikandung mendung pekat, baru saja dia bergayut dan meleleh. Sore kita kuyup. "Ah, biarlah," itu katamu, sambil kau geraikan basah di hatiku. Kulihat punggung tanganmu, tergurat kisah kita dalam gambar warna-warni. Persis pelangi yang kemarin kau tanam di benakku, dan pasti tumbuh subur meski tak sempat kusiangi; karena rinai tak pernah pergi.

Kau buka pintu perlahan, menyuarakan derit di hatiku. Lalu kita berbaku kata tentang masa, tentang warna, dan tentang jalan. Kita tertawa sambil menusukkan pedih di dinding jurang, tangan kita masih bersinggungan.

"Kelak jika senja tak lagi rinai, kita bangun istana mimpi kita," begitu rajukmu. Maka kupasakkan angan di bibir saga, agar menjadi saksi janji hati. Rinai senja tak pernah pergi, mungkin ia setia terjaga agar janji hati tetap bersembunyi.


Kaki Merapi, 8 Februari 2012

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...