Senin, 24 Oktober 2011

Teratai Cinta

kutengok hatiku, melingkar-lingkar di pusaran air kehidupan
timbul tenggelam
melambaikan cinta di setangkai kayu tua
yang gemetar digerogoti sejarah
sedang kau sibuk menghitung anak tangga dan
tak pernah mencapai puncak

sudahlah lupakan semua
bukankah telah kita semai cinta di awal musim hujan
agar tumbuh menjadi teratai tempat para katak
bermain dan bernyanyi riang
sementara ikanikan berenang berkejaran dan sembunyi
di bawahnya

tetapi waktu memang tak pernah berpihak
ia merayap, berlari, terbang, melesat tak perduli
cinta tlah menjalarkan akarnya di sekujur urat nadi
membiarkan tumbuh meliar, mengganas
menggerogoti tulang sisakan ngilu
menghisap darah sisakan luruh
sejarah purba yang selalu baru

kita saling tatap di bentang jarak dan waktu
dan bunga teratai berbiak menyemak
aku tergolek di dasar genang
tak lagi mampu menghitung jumlah


Kaki Merapi, 25 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Renjana Sunyi

senja menyapa, hadirkan angin pada rambutmu
sentakkan buncah pada kolam hasrat yang tibatiba
bergolak oleh lompat anakanak bermain air
aroma tubuhmu bangunkan beribu letup
di simpulsimpul syaraf
seakan adonan bubur pada titik didihnya
tanpa suara

aku terenjana

sejenak aku mabuk pada kilat kerling
merencah kepala; membawaku pada kemarau
dengan sungaisungai menadahkan tangan
dan tanahtanah rekah tengadah
berkata kepada langit, "cucurkan hujan pembasuh luka"

hening

kerontang sudah ilalang di ladang
tempat kita dulu bersua pandang
jejakmu dan jejakku tak lagi nampak bersilangan
karna debu dan layu dedaunan

lewat masa berganti
belati ini tak pernah mau berhenti
menusukkan sunyi


Kaki Merapi, 20 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Sajak Cinta

kutulis ini untuk sedikit mengurai gumpal rindu
di tiap simpul syarafku,
sejak kau lemparkan benih rasa di ladang hati;
dia tumbuh menyemak
meski musim hujan tak kunjung datang
kemarau ini justru menjadikannya kaktus berduri ilalang
yang akarnya adalah seluruh urat nadi

di banyak ladang anakanak bermain layanglayang
bergambar raut wajahmu
dan rumbainya melambai padaku,
menggeraikan rambutmu mengusap
basah relungku.

batangbatang tebu meliuk,
daundaunnya menari bermusik angin
sambil mendesaukan lagu rindu
untukku
ataukah
untuk kita?

mestinya sepasang matamu
pada wajah yang memenuhi kepalaku
menyaksikan pula di batas senja
sepasang angsa berdansa cinta
dan merasakan desah nafas mereka
dalam renjana

seperti yang masih kurasakan sapu nafasmu
merasuk rongga dadaku
membasuh bilur hati, melebam karna buluh waktu
sejenak kupejam mata agar sketsa rautmu
menjelma lukis wajah, membantu jemariku
mengguratnya di ruang hati paling sunyi

sajak ini mengalir sendiri
tak kuasa membunuh sepi


Kaki Merapi, 14 Oktober 2011

Perubahan

tadi kita jumpa di simpang lama, lusuh
wajahmu kuyu dan tirus, tulang pipi pongah menantang,
dan matamu meringkuk namun sorotmu tak
hilang garang
kujabat belulang jemarimu
gemeretak merobek udara
menusukkan butiran pasir di dadaku
kau tersenyum tipis,
tak kupahami lagi arti

ingatan berkelebat bertahun silam
tegap sosokmu dengan dada bidang
senyummu mentari pagi dan gurat saga senja
kita berbaku kata, saling canda

waktu memang tak punya perasaan
melindas apapun yang ada
mengganti tanpa bertanya
tanpa tawar menawar
bhusss...
seperti tukang sulap menjadikan bunga
guguran kertas

maka kutanya dirimu, "apa sebab?"
"perubahan butuh tumbal," katamu
tertegun aku


Kaki Merapi, 11 Oktober 2011

Minggu, 09 Oktober 2011

Terkerat Hati

Langit berlari sambil tertawa
menjatuhkan badannya di kasur
dan menghujamkan kepala di guling
Dakkk...
dahinya menghantam pinggir siku dinding
meledak tangisnya
terkerat hati papanya


Kaki Merapi, 09 Oktober 2011

Sepotong Malam

Sepotong malam membawa jemariku berjingkat
membuka lembarlembar lama kita
di sudut ingatan


Kaki Merapi, 09 Oktober 2011

Dimming Hope

Gone the days, come along the nights
the wind scatters away
tranquility torn apart
so tiny pieces becomes
silence swallows 'em and leaves hollow
see bodies buried on the ground, shallow
creating red ponds in the descent hearts
no more tears
emptied by miseries
agony is the air to breathe
life and death
lost and glory
dream and reality
are but twins with a mirror between
and thine
and mine
are but invisible dust
never does it stay in hand

Gone the days, come along the nights
no border traces
no country stays
search no more,
but a dimming hope in the middle of gloom
for love is tugged from the very parlor of our hearts


Kaki Merapi, 8 Oktober 2011

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...