Aku sang pengembara maya
berkelana mencari suaka telaga
Berabad waktu berlalu:
kemarau, hujan, musim semi, musim panas,
musim dingin, musim gugur, bahkan musim sembilu
Beribu tanah berganti:
bergelombang, berbatu cadas, berlubang, berjurang,
bahkan berlumut rindu
Daki menjadi selimut,
keringat menjadi penghangat;
darah tertumpah di mana-mana.
Aku sang pengembara maya
mata di penjuru dunia; semua fana
sesungguhnya tak nyata
Lebih banyak yang tak terjaga
lebih banyak yang terlelap
karena lebih indah mimpi daripada hidup suri
Aku sang pengembara maya
jelajahku daging, ternyata masih daging
maka kalam bersiuran hanya singgah sesaat
belum sempat melekat.
Aku masih harus mengembara
Kaki Merapi, 7 Agustus 2011
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Minggu, 07 Agustus 2011
Selasa, 02 Agustus 2011
Selembar Kertas
Selembar kertas teronggok di pojok ingatan
hurufhurufnya merah meleleh pada raut muka
Serupa darah
Pada tiap titik senja
berdentam seribu desah di selembar kertas
dan katakata menggelinjang memburai
Serupa resah
Telah menari kakikaki airmata pada tiap henti
jeda nafas dalam telut sujud tanpa raut
airmata bersabung dengan sengau katakata
melusuhkan kertas ingatan di sudut kepala
Serupa lara
Maka harus kuhujamkan rindu
pada laut yang paling laut
pada jurang yang paling jurang
pada relung yang tak lagi raung
Maka harus kubakar rasa hingga tanpa sisa
hanya serpih mengudara memerih mata
Katakata lunglai pada selembar kertas ingatan
merepih,
memerih,
mencerai rintih
Aku,
selembar kertas yang merindui api
Kaki Merapi, 3 Agustus 2011
hurufhurufnya merah meleleh pada raut muka
Serupa darah
Pada tiap titik senja
berdentam seribu desah di selembar kertas
dan katakata menggelinjang memburai
Serupa resah
Telah menari kakikaki airmata pada tiap henti
jeda nafas dalam telut sujud tanpa raut
airmata bersabung dengan sengau katakata
melusuhkan kertas ingatan di sudut kepala
Serupa lara
Maka harus kuhujamkan rindu
pada laut yang paling laut
pada jurang yang paling jurang
pada relung yang tak lagi raung
Maka harus kubakar rasa hingga tanpa sisa
hanya serpih mengudara memerih mata
Katakata lunglai pada selembar kertas ingatan
merepih,
memerih,
mencerai rintih
Aku,
selembar kertas yang merindui api
Kaki Merapi, 3 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
Tetes Peluh Merah
Pernah kita menyabung rasa di sudut kelam
pelepah daun mendengkingkan serapah
karena peraduannya kita rampas
untuk menggelinjangkan ruah madu hitam kita.
Maka kitapun lelap didekap renjana purba.
Pernah kita berbaku kata manis berselimut duri
menjajal angan hasrat yang tak kenal tunai
tapi kita tak sanggup menderu
karena kita disandera kejujuran,
direjam buah renjana.
Tiba-tiba kau hadir bersama angin
menumpahkan pucuk-pucuk duri di kepalaku
mendera jantungku dengan ujung lidah paling jarum.
Sakau jiwaku.
Layaknya engkau adalah mawar liar
mengundang gairah
dan mengguratkan tetes peluh merah.
Yogyakarta, 31 Juli 2011
pelepah daun mendengkingkan serapah
karena peraduannya kita rampas
untuk menggelinjangkan ruah madu hitam kita.
Maka kitapun lelap didekap renjana purba.
Pernah kita berbaku kata manis berselimut duri
menjajal angan hasrat yang tak kenal tunai
tapi kita tak sanggup menderu
karena kita disandera kejujuran,
direjam buah renjana.
Tiba-tiba kau hadir bersama angin
menumpahkan pucuk-pucuk duri di kepalaku
mendera jantungku dengan ujung lidah paling jarum.
Sakau jiwaku.
Layaknya engkau adalah mawar liar
mengundang gairah
dan mengguratkan tetes peluh merah.
Yogyakarta, 31 Juli 2011
Senin, 25 Juli 2011
Kelak Kita Bertemu
Waktu tlah merenggutmu dariku,
waktu jua yg mengalirkanmu bersama darah
di nadiku
Seribu kelu bukan lagi sembilu
tak lagi hati mencucuk jarum
meski kadang masih tersisa gugu
tak ada lagi, tak ada lagi
kecuali keyakinan kelak kita bertemu
Kaki Merapi, 25 Juli 2011
waktu jua yg mengalirkanmu bersama darah
di nadiku
Seribu kelu bukan lagi sembilu
tak lagi hati mencucuk jarum
meski kadang masih tersisa gugu
tak ada lagi, tak ada lagi
kecuali keyakinan kelak kita bertemu
Kaki Merapi, 25 Juli 2011
Selasa, 19 Juli 2011
Fading Joy
and thy fragrance of love to the mist disperses;
Slowly our memories creep out of the room
where once united our two universes.
Flirting my soul with thy fading smiles,
the moon launches my senses to the emptiness.
Shall I bridge the distance of a thousand miles
and bring thee back to swim in the sea of madness?
the moon launches my senses to the emptiness.
Shall I bridge the distance of a thousand miles
and bring thee back to swim in the sea of madness?
Tonight thou come to my silent rim;
oh sweet rose, I lost the wind thou breeze,
it slips away and come what may.
Hence, through the leaves I whisper my dream
and let the bees thy crimson joy squeeze
and bequeath this love to dim light to slay
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
Aku Titipkan Senyum
Aku titipkan senyum pada embun
pagi yang tiap kali mengetuk jendela hatimu
usapkan pada rona pipimu jika kau merindu
Kusampirkan harap pada rindang daunan di sisi kamar
jika kau bangun nanti,
ia akan merambati sekujur nadi
dan geliatmu leburkan renjana yang lama tersekam.
Aku pergi mengusung pagi,
tapi tak kutinggalkan senja
karena rautmu adalah penghuni abadi
alir nadiku
Mari bersendau meski lewat bayang
biar tak terasa bahwa jarak terentang
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
pagi yang tiap kali mengetuk jendela hatimu
usapkan pada rona pipimu jika kau merindu
Kusampirkan harap pada rindang daunan di sisi kamar
jika kau bangun nanti,
ia akan merambati sekujur nadi
dan geliatmu leburkan renjana yang lama tersekam.
Aku pergi mengusung pagi,
tapi tak kutinggalkan senja
karena rautmu adalah penghuni abadi
alir nadiku
Mari bersendau meski lewat bayang
biar tak terasa bahwa jarak terentang
Kaki Merapi, 19 Juli 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Kita Menari di Alir Sungai Susu
Kau dengar tadi mama,
mereka bergumam, sebagian bersenandung pujian untukmu.
Masih ada yang menitikkan bening memantulkan rautmu
yang meneduhku dari sengkarut rasa.
Sejenak kuedarkan mata pada kumpulan raut yang ada;
mestinya asing engkau karena bukan mereka
yang sering bercanda di beranda kita.
Aih, mestikah ada beda di sana?
Orangorang berkata bahwa 1000 adalah batas pemisah
dunia kita; tidak begitu bagiku. Waktu tak punya
kuasa atas darah yang mengaliri nadiku.
Engkau hanya berlalu sesaat menyiapkan tempat
bagi kita bertemu seperti dulu selalu
kau siapkan segala sesuatu untukku.
Bersuka citalah engkau dalam perjamuan kudusNYA
di sampingnya kelak aku berdansa di kemah Junjungan Agungku
kita menari di alir sungai susu.
Malang, 21 Juli 2011
mereka bergumam, sebagian bersenandung pujian untukmu.
Masih ada yang menitikkan bening memantulkan rautmu
yang meneduhku dari sengkarut rasa.
Sejenak kuedarkan mata pada kumpulan raut yang ada;
mestinya asing engkau karena bukan mereka
yang sering bercanda di beranda kita.
Aih, mestikah ada beda di sana?
Orangorang berkata bahwa 1000 adalah batas pemisah
dunia kita; tidak begitu bagiku. Waktu tak punya
kuasa atas darah yang mengaliri nadiku.
Engkau hanya berlalu sesaat menyiapkan tempat
bagi kita bertemu seperti dulu selalu
kau siapkan segala sesuatu untukku.
Bersuka citalah engkau dalam perjamuan kudusNYA
di sampingnya kelak aku berdansa di kemah Junjungan Agungku
kita menari di alir sungai susu.
Malang, 21 Juli 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...





