Minggu, 07 Agustus 2011

Pengembara

Aku sang pengembara maya
berkelana mencari suaka telaga
Berabad waktu berlalu:
kemarau, hujan, musim semi, musim panas,
musim dingin, musim gugur, bahkan musim sembilu
Beribu tanah berganti:
bergelombang, berbatu cadas, berlubang, berjurang,
bahkan berlumut rindu
Daki menjadi selimut,
keringat menjadi penghangat;
darah tertumpah di mana-mana.

Aku sang pengembara maya
mata di penjuru dunia; semua fana
sesungguhnya tak nyata
Lebih banyak yang tak terjaga
lebih banyak yang terlelap
karena lebih indah mimpi daripada hidup suri

Aku sang pengembara maya
jelajahku daging, ternyata masih daging
maka kalam bersiuran hanya singgah sesaat
belum sempat melekat.
Aku masih harus mengembara


Kaki Merapi, 7 Agustus 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

Selembar Kertas

Selembar kertas teronggok di pojok ingatan
hurufhurufnya merah meleleh pada raut muka
Serupa darah

Pada tiap titik senja
berdentam seribu desah di selembar kertas
dan katakata menggelinjang memburai
Serupa resah

Telah menari kakikaki airmata pada tiap henti
jeda nafas dalam telut sujud tanpa raut
airmata bersabung dengan sengau katakata
melusuhkan kertas ingatan di sudut kepala
Serupa lara

Maka harus kuhujamkan rindu
pada laut yang paling laut
pada jurang yang paling jurang
pada relung yang tak lagi raung
Maka harus kubakar rasa hingga tanpa sisa
hanya serpih mengudara memerih mata

Katakata lunglai pada selembar kertas ingatan
merepih,
memerih,
mencerai rintih

Aku,
selembar kertas yang merindui api


Kaki Merapi, 3 Agustus 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Tetes Peluh Merah

Pernah kita menyabung rasa di sudut kelam
pelepah daun mendengkingkan serapah
karena peraduannya kita rampas
untuk menggelinjangkan ruah madu hitam kita.
Maka kitapun lelap didekap renjana purba.

Pernah kita berbaku kata manis berselimut duri
menjajal angan hasrat yang tak kenal tunai
tapi kita tak sanggup menderu
karena kita disandera kejujuran,
direjam buah renjana.

Tiba-tiba kau hadir bersama angin
menumpahkan pucuk-pucuk duri di kepalaku
mendera jantungku dengan ujung lidah paling jarum.
Sakau jiwaku.

Layaknya engkau adalah mawar liar
mengundang gairah
dan mengguratkan tetes peluh merah.


Yogyakarta, 31 Juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

Kelak Kita Bertemu

Waktu tlah merenggutmu dariku,
waktu jua yg mengalirkanmu bersama darah
di nadiku
Seribu kelu bukan lagi sembilu
tak lagi hati mencucuk jarum
meski kadang masih tersisa gugu
tak ada lagi, tak ada lagi
kecuali keyakinan kelak kita bertemu


Kaki Merapi, 25 Juli 2011

Selasa, 19 Juli 2011

Fading Joy


The sky is dark and cold and gloom
and thy fragrance of love to the mist disperses;
Slowly our memories creep out of the room
where once united our two universes.
Flirting my soul with thy fading smiles,
the moon launches my senses to the emptiness.
Shall I bridge the distance of a thousand miles
and bring thee back to swim in the sea of madness?

Tonight thou come to my silent rim;
oh sweet rose, I lost the wind thou breeze,
it slips away and come what may.
Hence, through the leaves I whisper my dream
and let the bees thy crimson joy squeeze
and bequeath this love to dim light to slay


Kaki Merapi, 19 Juli 2011

Aku Titipkan Senyum

Aku titipkan senyum pada embun
pagi yang tiap kali mengetuk jendela hatimu
usapkan pada rona pipimu jika kau merindu
Kusampirkan harap pada rindang daunan di sisi kamar
jika kau bangun nanti,
ia akan merambati sekujur nadi
dan geliatmu leburkan renjana yang lama tersekam.
Aku pergi mengusung pagi,
tapi tak kutinggalkan senja
karena rautmu adalah penghuni abadi
alir nadiku

Mari bersendau meski lewat bayang
biar tak terasa bahwa jarak terentang


Kaki Merapi, 19 Juli 2011

Minggu, 17 Juli 2011

Kita Menari di Alir Sungai Susu

Kau dengar tadi mama,
mereka bergumam, sebagian bersenandung pujian untukmu.
Masih ada yang menitikkan bening memantulkan rautmu
yang meneduhku dari sengkarut rasa.
Sejenak kuedarkan mata pada kumpulan raut yang ada;
mestinya asing engkau karena bukan mereka
yang sering bercanda di beranda kita.
Aih, mestikah ada beda di sana?

Orangorang berkata bahwa 1000 adalah batas pemisah
dunia kita; tidak begitu bagiku. Waktu tak punya
kuasa atas darah yang mengaliri nadiku.
Engkau hanya berlalu sesaat menyiapkan tempat
bagi kita bertemu seperti dulu selalu
kau siapkan segala sesuatu untukku.

Bersuka citalah engkau dalam perjamuan kudusNYA
di sampingnya kelak aku berdansa di kemah Junjungan Agungku
kita menari di alir sungai susu.


Malang, 21 Juli 2011

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...