Kekasih,
lihatlah awan berkejaran mengarak matahari mengusap hati kita.
Kilaumu adalah dedaunan pagi berpucuk embun,
sekejap mengurai pesona merasuk jiwa.
Senyummu adalah melodi pemain harpa mendawaikan lenguh cintanya.
Dia tebarkan nada menelusup udara,
menyesaki kepala kita tentang asmara di mimpi awan.
Malam tlah larut, tidurlah tidur kekasih.
Kukirimkan rindu lewat denting angin menelusup hatimu,
agar mimpimu berselimut hangat paduan angan kita.
Yogyakarta, November 2010
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Rabu, 17 November 2010
Desah
Wajahmu hadir berselimut kabut
lumer dalam tungku jiwa
menelusup dalam tiap bulir darah
aku mendesah
pada sepenggal rembulan malam.
Ada yang tersisa dari pergumulan hitam
wajahmu tengadah
menyambut kecupan sebilah buluh cinta terkejam
matamu terpejam
merintih dalam hujam sepucuk rindu terlarang
aku mendesah
pada sepenggal suram rembulan malam
Yogyakarta, November 2010
lumer dalam tungku jiwa
menelusup dalam tiap bulir darah
aku mendesah
pada sepenggal rembulan malam.
Ada yang tersisa dari pergumulan hitam
wajahmu tengadah
menyambut kecupan sebilah buluh cinta terkejam
matamu terpejam
merintih dalam hujam sepucuk rindu terlarang
aku mendesah
pada sepenggal suram rembulan malam
Yogyakarta, November 2010
Kamis, 11 November 2010
Daun Luruh
Daun-daun luruh,
satu-satu menyapaku
membawa berita tentangmu yang tak mungkin
teraih dalam pelukku.
Tanyakan pada mimpi
rasa apa yang sedang bersemi
tanyakan pada hati
bayang-bayang yang datang pergi
dalam resah tak bertepi
Yogyakarta, November 2010
satu-satu menyapaku
membawa berita tentangmu yang tak mungkin
teraih dalam pelukku.
Tanyakan pada mimpi
rasa apa yang sedang bersemi
tanyakan pada hati
bayang-bayang yang datang pergi
dalam resah tak bertepi
Yogyakarta, November 2010
Merapi - Mimpi
Hujan deras tercurah
membawa banyak hati resah
akankah mimpi terkulai
sebelum sempat senyum tertuai?
Yogya, November 2010
Minggu, 31 Oktober 2010
Wisuda
Kamis, 14 Oktober 2010
Paradoks
Tikamlah aku dengan puisi
dan buraikan dengan sajakmu
biar terkapar jiwa dalam neraka cinta
dan terkubur dalam surga luka...
Yogyakarta, Oktober 2010
Selasa, 12 Oktober 2010
Meregang Nyawa
Jutaan kubik air bumi menyalami kota-kota
jutaan kubik air menetes dari raut muka
antar moda tak lagi tahu waktu dan arah dituju
menumpahkan banjir merah putih
dan jerit membahana kelu
Bumi menari liar
karena kita bermusik dan berdendang sumbang,
Matahari menyorotkan angkara
karena kita menantang murka,
meremah sudah batas siang dan malam
dalam setiap langkah yang semakin kejam
Kata-kata adalah nyata
dan tindakan adalah maya
tak ada lagi tempat untuk meletakkan percaya
tinggal waktu tersisa meregang nyawa.
Karanganom, Oktober 2010
jutaan kubik air menetes dari raut muka
antar moda tak lagi tahu waktu dan arah dituju
menumpahkan banjir merah putih
dan jerit membahana kelu
Bumi menari liar
karena kita bermusik dan berdendang sumbang,
Matahari menyorotkan angkara
karena kita menantang murka,
meremah sudah batas siang dan malam
dalam setiap langkah yang semakin kejam
Kata-kata adalah nyata
dan tindakan adalah maya
tak ada lagi tempat untuk meletakkan percaya
tinggal waktu tersisa meregang nyawa.
Karanganom, Oktober 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
HUJAN PAGI
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
dan karma itu menumpahkan hujan pada renjana yang membara lalu kita guratkan janji pada lenguh paling pagi jarak telah menjadi pencuri aku ...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...





