entah desah mana menggiring kata pada tatap
dan baku tawa
kisah menyungai di musim hujan
terik sempat membarakan geliat terpendam
sesaat, pelan
tapi layang debu siramkan api hati
perlahan mati
ditikam belati
keraguan
kau dan aku
berlumur senyum dan kerling tajam
saling mendekap gamang
seperti tercatat pada uraturat jalan
waktu tak pernah berkawan
dia melaju dalam diam
dalam bisu dinding yang menyeringai curiga
menelan seluruh kisah
sisakan sepi membasah
ah, aku cemburu pada embun di daun
berbaku kerinduan
Kaki Merapi, 13 Oktober 2012
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Jumat, 02 Maret 2018
Maka pergimu adalah sengat di jantungku
seberapapun jauh jarak pemisah
antara engkau dan aku
seberapapun banyak duri
di sekat labirin kita
seberapapun kental pahit yang kau seduh
untukku, ya untukku
di dasar hatiku, aku mengagumimu
ya, aku mengagumimu
maka pergimu adalah sengat di jantungku
aku tergugu
bagimu,
pagi adalah api yang mendidihkan mimpi
menyeduh harapan
pada cangkir cangkir kopi yang kau saji
bagimu,
waktu adalah pemintal abadi
untuk serak benang yang tengah kau rajut
menjadi selimut kebanggaan kami
bagimu,
cita-cita adalah janji yang harus dipenuhi
mimpi yang tak boleh berhenti
maka pergimu adalah sengat di jantungku
aku tergugu
selamat jalan pak Hartadi*
surga menyambutmu
dengan tarian angsa pada bianglala senja
Innalillahi wa innailaihi rojiun
Allahumma firlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu
Jogja, 8 Desember 2016
*Rektor UTY yang luar biasa
antara engkau dan aku
seberapapun banyak duri
di sekat labirin kita
seberapapun kental pahit yang kau seduh
untukku, ya untukku
di dasar hatiku, aku mengagumimu
ya, aku mengagumimu
maka pergimu adalah sengat di jantungku
aku tergugu
bagimu,
pagi adalah api yang mendidihkan mimpi
menyeduh harapan
pada cangkir cangkir kopi yang kau saji
bagimu,
waktu adalah pemintal abadi
untuk serak benang yang tengah kau rajut
menjadi selimut kebanggaan kami
bagimu,
cita-cita adalah janji yang harus dipenuhi
mimpi yang tak boleh berhenti
maka pergimu adalah sengat di jantungku
aku tergugu
selamat jalan pak Hartadi*
surga menyambutmu
dengan tarian angsa pada bianglala senja
Innalillahi wa innailaihi rojiun
Allahumma firlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu
Jogja, 8 Desember 2016
*Rektor UTY yang luar biasa
Kamis, 01 Maret 2018
Sepotong Surat untuk Istriku
ketika kau tanya tentang cintaku padamu
aku tergugu, aku tak tahu
kata apa yang pas untuk itu
sebab engkau kepadaku
adalah luruh pada setiapku
seperti malam tak lagi punya arti
saat gelap tak lagi merajai
seperti hutan
hanyalah sepetak tanah gersang
tanpa semak dan pepohonan
dan samudera tinggalah nama belaka
ketika tak ada lagi ombak berdansa di sana
demikian pun engkau bagiku
lantas
bagaimana aku akan mengatakan cinta
ketika yang kurasa
melebihi seluruh maknanya?
jangan lagi kepadaku kau tanya
sebab setiap getarku adalah dirimu
dan aku bukan lagi aku
tanpa engkau menjadi nafasku
Kaki Merapi 24 September 2016
SELAMAT ULANG TAHUN ISTRIKU
SEMOGA SENANTIASA BERKAH TUHAN TERCURAH BAGIMU
aku tergugu, aku tak tahu
kata apa yang pas untuk itu
sebab engkau kepadaku
adalah luruh pada setiapku
seperti malam tak lagi punya arti
saat gelap tak lagi merajai
seperti hutan
hanyalah sepetak tanah gersang
tanpa semak dan pepohonan
dan samudera tinggalah nama belaka
ketika tak ada lagi ombak berdansa di sana
demikian pun engkau bagiku
lantas
bagaimana aku akan mengatakan cinta
ketika yang kurasa
melebihi seluruh maknanya?
jangan lagi kepadaku kau tanya
sebab setiap getarku adalah dirimu
dan aku bukan lagi aku
tanpa engkau menjadi nafasku
Kaki Merapi 24 September 2016
SELAMAT ULANG TAHUN ISTRIKU
SEMOGA SENANTIASA BERKAH TUHAN TERCURAH BAGIMU
Nafas Cinta
pagi mengirimkan desaunya
sunyi yang membara
senyap yang menggelora
nafas yang berkejaran
dan angin pun cemburu
Jogja, 3 Februari 2017
sunyi yang membara
senyap yang menggelora
nafas yang berkejaran
dan angin pun cemburu
Jogja, 3 Februari 2017
Tentangmu
ada selasar sepi yang rajin mencatat
pertemuan pertemuan mata kita
anak tangga itu pernah menghitung
berapa derap rasa yang berdegup
entah kau masih ingat atau mungkin sudah lupa
betapa dalam pernah kita merindukan sepi
sebab sepi adalah buku harian paling sempurna
untuk setiap jengkal perjalanan cinta
kemarin aku buka lagi album foto kita
sungguh waktu tidak pernah mengenal jeda
sudah demikian banyak kita punguti sisa usia
tapi senyummu, tetap saja mawar di musim bunga
kusimpan dulu catatan ini yang masih masai
biar saja, biar tak juga usai
sebab tentangmu
adalah puisi hati yang tak pernah selesai
Jogja, 17 Oktober 2016
pertemuan pertemuan mata kita
anak tangga itu pernah menghitung
berapa derap rasa yang berdegup
entah kau masih ingat atau mungkin sudah lupa
betapa dalam pernah kita merindukan sepi
sebab sepi adalah buku harian paling sempurna
untuk setiap jengkal perjalanan cinta
kemarin aku buka lagi album foto kita
sungguh waktu tidak pernah mengenal jeda
sudah demikian banyak kita punguti sisa usia
tapi senyummu, tetap saja mawar di musim bunga
kusimpan dulu catatan ini yang masih masai
biar saja, biar tak juga usai
sebab tentangmu
adalah puisi hati yang tak pernah selesai
Jogja, 17 Oktober 2016
Sajak Cinta dari Ciamis
sudah kau kerahkan segala daya untuk menghadang
sudah kau peras seluruh keringat untuk menghalang
sudah kau sebar lembar perintah untuk melarang
sudah kau tancapkan pancang sebagai perintang
semangat ini semakin meradang
kami datang dalam gelombang tak terbilang
sebab yang berjalan bukanlah kaki kami
sebab yang bergerak bukanlah pikiran kami
sebab yang beraksi bukanlah tubuh kami
melainkan titah langit yang mengalir dalam nadi kami
getaran jiwa paling relung yang kau tak pernah mengerti
ghirah iman paling dalam yang kau bahkan tak mampu lagi menggali
kami riak riak kecil yang mulai luber menyebar
jika engkau tak lihai lagi berselancar
berhentilah mengumbar gebyar
sebab kami akan menjadi air bah
yang mampu menelanmu berkalang tanah
maka,
bukalah hati untuk kami
sebab kami cinta negri ini
tapi di atas segalanya
kami cinta titah langit
yang mengalir di sekujur nadi kami
Kaki Merapi, 30 November 2016
sudah kau peras seluruh keringat untuk menghalang
sudah kau sebar lembar perintah untuk melarang
sudah kau tancapkan pancang sebagai perintang
semangat ini semakin meradang
kami datang dalam gelombang tak terbilang
sebab yang berjalan bukanlah kaki kami
sebab yang bergerak bukanlah pikiran kami
sebab yang beraksi bukanlah tubuh kami
melainkan titah langit yang mengalir dalam nadi kami
getaran jiwa paling relung yang kau tak pernah mengerti
ghirah iman paling dalam yang kau bahkan tak mampu lagi menggali
kami riak riak kecil yang mulai luber menyebar
jika engkau tak lihai lagi berselancar
berhentilah mengumbar gebyar
sebab kami akan menjadi air bah
yang mampu menelanmu berkalang tanah
maka,
bukalah hati untuk kami
sebab kami cinta negri ini
tapi di atas segalanya
kami cinta titah langit
yang mengalir di sekujur nadi kami
Kaki Merapi, 30 November 2016
Cemburu
Hari ini masih terbawa rasamu
memeluk jiwa
lewat hembusan nafas
alam menyapu wajah
bersama kicau angin pagi
mengetuk gendang telinga
masih sempat kulihat awan
disana memandangku cemburu
dan memintaku berbagi dengannya
Jogja, 5 Juli 2010
memeluk jiwa
lewat hembusan nafas
alam menyapu wajah
bersama kicau angin pagi
mengetuk gendang telinga
masih sempat kulihat awan
disana memandangku cemburu
dan memintaku berbagi dengannya
Jogja, 5 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
Dewi Keadilan di Negriku
dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...
-
dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...