suara jengkerik bersautan
kuhitung satusatu
kelam mengejekku
kusambit dia dengan lenguh
berjatuhan buah gundah di dedaun lusuh
senyap memungut pendarnya
bergelincir dalam keringat sesah
satusatu butir rekah kurekat
tetapi asa digumul resah
malam tertatih
matahari enggan berpindah
waktu serupa siput
lelap dalam mimpi mentah
Kaki Merapi, 1 Agustus 2012
Aku dan pergulatanku menyusupi celah-celah kehidupan yang membawaku dalam kembara yang tak mengenal jeda. Baru kumengerti bahwa sunyi adalah belati berkarat yang mampu membawa sekarat...
Rabu, 01 Agustus 2012
Sajak Untuk Zeby
sosokmu adalah peluru hidup menembusi rasa
dan kau mengerling
debar menggeletar
titiktitik pori muaikan hasrat
kala menggelinding denganmu
lekuk jalan menjadi gelinjang
liuk jalan menjadi geliat berdesah
dan memacumu
bak renjana gelegakkan darah
menatapmu dalam diam
geriap senyap pada hasrat terurai malam
maka biarlah belai mesra kita
lahirkan buah rindu tak berkesudahan
rasa melayang di awan
Kaki Merapi, 27 Juli 2012
Senin, 30 Juli 2012
Lelaki Berkawan Kabut
lelaki itu berkawan kabut
waktu kembali berjelaga
sementara buku jarinya mulai berbincang
dengan garisgaris waktu
hidup hanyalah satu berlimpah mata
melingkar, menekuk, melempang, menyudut
riung pada yang tak pernah sujud
dia tersenyum, entah pada siapa
bocahbocah telanjang bermain air, pasir, dan lumpur
tulangtulang mereka tengah berbincang dengan angin
apa adanya,
selalu begitu
selalu jujur
lelaki itu berkawan kabut
dan bocahbocah belum mengenal kerut
Kaki Merapi, 21 Juli 2012
waktu kembali berjelaga
sementara buku jarinya mulai berbincang
dengan garisgaris waktu
hidup hanyalah satu berlimpah mata
melingkar, menekuk, melempang, menyudut
riung pada yang tak pernah sujud
dia tersenyum, entah pada siapa
bocahbocah telanjang bermain air, pasir, dan lumpur
tulangtulang mereka tengah berbincang dengan angin
apa adanya,
selalu begitu
selalu jujur
lelaki itu berkawan kabut
dan bocahbocah belum mengenal kerut
Kaki Merapi, 21 Juli 2012
Katakata
aku tersedak pada kerling anakanak telanjang
gigi mereka mengilaukan matahari sejati
warna yang mulai tersaput kabut geriap
riuhnya katakata kuasa
lembayung masih berwarna sama
pun angin yang tercecap
tak berubah
tapi sakit tak lagi trasa
karena ambang tlah ditebas riuh kata
siapa yang mengayuh sampan di pagi buta
di tengah belantara gagap
dadadada penuh cinta
kata cinta senyap
tak perlu riuh kata
tatkala saling jiwa penuh rasa
Kaki Merapi, 20 Juli 2012
gigi mereka mengilaukan matahari sejati
warna yang mulai tersaput kabut geriap
riuhnya katakata kuasa
lembayung masih berwarna sama
pun angin yang tercecap
tak berubah
tapi sakit tak lagi trasa
karena ambang tlah ditebas riuh kata
siapa yang mengayuh sampan di pagi buta
di tengah belantara gagap
dadadada penuh cinta
kata cinta senyap
tak perlu riuh kata
tatkala saling jiwa penuh rasa
Kaki Merapi, 20 Juli 2012
gigil
gigil itu masih menusukiku
meski sudah kusruput secangkir senyummu
hangat
Kaki Merapi 16 juli 2012
meski sudah kusruput secangkir senyummu
hangat
Kaki Merapi 16 juli 2012
Selasa, 15 Mei 2012
Di Sini
di sini
ada bisik lewat geretak reranting
kerlingmu berkilat oleh dedaun berdenting
riuh tak lagi menari
di jalan pulang rinduku mengabut
masihkan pohon cerme di depan rumah merindang
agar sua nanti penuh kuyup yang matang?
Aih, jarak tiba-tiba menjadi butut
di sini aku rebah
rerumput menganyam gundah gairah
wangimu merusa betina di musim renjana
ah, ingin kugali tanahku di senja sana
Kaki Merapi, 13 Mei 2012
ada bisik lewat geretak reranting
kerlingmu berkilat oleh dedaun berdenting
riuh tak lagi menari
di jalan pulang rinduku mengabut
masihkan pohon cerme di depan rumah merindang
agar sua nanti penuh kuyup yang matang?
Aih, jarak tiba-tiba menjadi butut
di sini aku rebah
rerumput menganyam gundah gairah
wangimu merusa betina di musim renjana
ah, ingin kugali tanahku di senja sana
Kaki Merapi, 13 Mei 2012
Lumat
Siang seperti perang,
maka malam betubuh jerang
teritis tak mampu menitis
mungkin habis
karena angin menebar peluru
dan matahari tak lagi punya ragu
erang nafas memburu
keringat tak mau sedetikpun berseteru
belantara hijau menyulam rindu
terbakar rautmu pada gigil rasaku
lumat
jauh sebelum tamat
Kaki Merapi 25 April 2012
maka malam betubuh jerang
teritis tak mampu menitis
mungkin habis
karena angin menebar peluru
dan matahari tak lagi punya ragu
erang nafas memburu
keringat tak mau sedetikpun berseteru
belantara hijau menyulam rindu
terbakar rautmu pada gigil rasaku
lumat
jauh sebelum tamat
Kaki Merapi 25 April 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
Dewi Keadilan di Negriku
dewi keadilan makin terkoyak hatinya dia telah ikhlaskan hilang kedua matanya kini timbangan di tangan hilang dicuri di negri yang katanya g...
-
these scattered memories of glittering lies and love though hardened in the rainy night won't a second leave from my sight whispering br...
-
hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...
-
Biarlah kurekah fajar agar koyak kelam yang menutupi rautmu akan kurobek kabut agar tersibak tirai yang sembunyikan kerlingmu biar kubelah...
