Jumat, 26 Agustus 2011

Duhai Kekasih II

Aku sering kehilangan kekasih pada malam
yang menyembunyikannya pada ruangruang tak bernama,
lalu apakah dikau masih kusebut kekasih
jika waktu tak pernah henti mematahkan rinduku:

waktu belum berkata padaku sampai kapan
dia menyembunyikanmu dalam ruang hampa rasa
dan menyandera pendarpendar renjanaku
di sudutsudut gelap
Jika kepadaku dia bilang
mestinya selesai rinai kekasihku melenggang hilang

O duhai, malam telah lama menjadi jahanam bagiku!
merenggut kekasihku tanpa ampun dari tumpukan inginku
dan menyandera harapku dalam istana debu
tahukan engkau betapa aku tlah kenakan
busana cinta untukmu?

Duhai,
ini malam menawarkan rajam pada tiap titik ruang
menghadirkan repih pada tiaptiap serpih rasa
masihkah engkau kekasih
ketika tanggal satu per satu daun rindu?

Duhai kekasih,
pernah kulihat seleret berpendar dari bola matamu
menyembunyikan kulum yang kau hujamkan
pada telaga yang menyambut sambil berbuncah
aku tergugu
tak lagi sekedar malamku menjadi jahanam
siangku telah pula merajam


Yogyakarta, 26 Agustus 2011

Ilustrasi gambar adalah lukisan karya Lim Sahih
tidak ada judulnya
Tidak digunakan untuk tujuan komersial

Minggu, 21 Agustus 2011

Magrib

Semburat saga mengundang matahari meredupkan binarnya
gema ilahi menggaung pada jiwajiwa merindu
gemericik air menghantar gerak dalam pensucian tubuh
maka bertelut semesta jiwa dalam segenap rindu
dan sunyi menjadi saksi pertautan dengan Sang Suci

Wahai jiwaku yang kembara di bawah matahari garang
senyapkan sejenak dalam dekap samudra rindu abadi
luruhkan segenap keangkuhan pada sujud
seiring rebah semesta dalam belai cinta nirvana
biar menari setiap bulir darah
dan berdendang sekujur syaraf pada sapa Ilahi

Yaa Allah, Yaa Rabb...
rinduku menggeletar seolah air mencari samudra
ijinkan sunyi merengkuhku dan mengecupkan hembusMU
pada detik magrib
pada sunyi Sang Suci
telutku adalah lentang jiwa padaMU


Yogyakarta, 22 Agustus 2011

Duhai Kekasih

Ini malam anganku terberai menyecap aroma
yang kau tebar lewat desau
kerjap matamu berkerling dengan rembulan
mengundang rasaku merenjana
sepertinya malam tengah bersetubuh dengan hasratku
karna setiap bulir darahku meletupletup
bak terjerang di titik didih
dan setiap simpul syaraf menggeletar saling tindih

Duhai kekasih,
angin diamdiam datang membentangkan rentang
maka rinduku kembali pada dedaunan tergantang
tersisa kerlingmu perlahan melenggang
hilang

Duhai kekasih...


Kaki Merapi, 21 Agustus 2011

Ilustrasi gambar adalah lukisan karya Lim Sahih
digunakan bukan untuk tujuan komersial

Minggu, 07 Agustus 2011

Pengembara

Aku sang pengembara maya
berkelana mencari suaka telaga
Berabad waktu berlalu:
kemarau, hujan, musim semi, musim panas,
musim dingin, musim gugur, bahkan musim sembilu
Beribu tanah berganti:
bergelombang, berbatu cadas, berlubang, berjurang,
bahkan berlumut rindu
Daki menjadi selimut,
keringat menjadi penghangat;
darah tertumpah di mana-mana.

Aku sang pengembara maya
mata di penjuru dunia; semua fana
sesungguhnya tak nyata
Lebih banyak yang tak terjaga
lebih banyak yang terlelap
karena lebih indah mimpi daripada hidup suri

Aku sang pengembara maya
jelajahku daging, ternyata masih daging
maka kalam bersiuran hanya singgah sesaat
belum sempat melekat.
Aku masih harus mengembara


Kaki Merapi, 7 Agustus 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

Selembar Kertas

Selembar kertas teronggok di pojok ingatan
hurufhurufnya merah meleleh pada raut muka
Serupa darah

Pada tiap titik senja
berdentam seribu desah di selembar kertas
dan katakata menggelinjang memburai
Serupa resah

Telah menari kakikaki airmata pada tiap henti
jeda nafas dalam telut sujud tanpa raut
airmata bersabung dengan sengau katakata
melusuhkan kertas ingatan di sudut kepala
Serupa lara

Maka harus kuhujamkan rindu
pada laut yang paling laut
pada jurang yang paling jurang
pada relung yang tak lagi raung
Maka harus kubakar rasa hingga tanpa sisa
hanya serpih mengudara memerih mata

Katakata lunglai pada selembar kertas ingatan
merepih,
memerih,
mencerai rintih

Aku,
selembar kertas yang merindui api


Kaki Merapi, 3 Agustus 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Tetes Peluh Merah

Pernah kita menyabung rasa di sudut kelam
pelepah daun mendengkingkan serapah
karena peraduannya kita rampas
untuk menggelinjangkan ruah madu hitam kita.
Maka kitapun lelap didekap renjana purba.

Pernah kita berbaku kata manis berselimut duri
menjajal angan hasrat yang tak kenal tunai
tapi kita tak sanggup menderu
karena kita disandera kejujuran,
direjam buah renjana.

Tiba-tiba kau hadir bersama angin
menumpahkan pucuk-pucuk duri di kepalaku
mendera jantungku dengan ujung lidah paling jarum.
Sakau jiwaku.

Layaknya engkau adalah mawar liar
mengundang gairah
dan mengguratkan tetes peluh merah.


Yogyakarta, 31 Juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

Kelak Kita Bertemu

Waktu tlah merenggutmu dariku,
waktu jua yg mengalirkanmu bersama darah
di nadiku
Seribu kelu bukan lagi sembilu
tak lagi hati mencucuk jarum
meski kadang masih tersisa gugu
tak ada lagi, tak ada lagi
kecuali keyakinan kelak kita bertemu


Kaki Merapi, 25 Juli 2011

HUJAN PAGI

 hujan pagi di musim kemarau dan bulir padi usai dituai aroma tanah basah dan kelepak burung sesayup daun yang kuyup menggurat rautmu di pel...